Senin, 17 Desember 2018

Bu Toerah


Bu Toerah tinggal sendiri. Suaminya meninggal sejak 12 tahun yang lalu. Untuk menghidupi dirinya, ia jualan nasi pecel di depan rumahnya. Pekerjaan itu sudah ia geluti sejak tahun 1972.

"Mulai dulu jualan nasi pecel tapi gak sugih sugih juga, mas. Tapi juga gak melarat-melarat amat. Pokok e disyukuri wae", ujar ibu kelahiran tahun 1951 itu.

Ia kelahiran Kediri. Tapi, sejak menikah dengan Pak Muji, ia sudah tinggal di Ranurejo. Di berada rumah, ia mengenang masa kecil. Kepada saya ia bercerita sekelumit kisah saat ia di Kediri.

"Saya di Kediri Wates, mas. Keluarga saya di sana sudah tidak ada. Sudah meninggal semua. Saya tak bisa pulang lagi ke Kediri. Padahal saya kangen pulang ke tanah kelahiran. Bisa ketemu teman-teman. Tapi kayak e wes banyak yang meninggal".

Bu Toerah pernah sekolah. Tapi tidak tuntas. Karena orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya.

"Saya berhenti kelas 2 SD mas. Orang tua gak mampu. Tapi saya bisa baca dikit-dikit. Kalo sampean kan orang terdidik. Pintar".

Saya hanya tersenyum. Tidak menjawab. Dan memilih mendengarkan apa saja yang Bu Toerah ceritakan.

"Sampean pasti banyak uang. Gajinya besar. Itu di tasnya banyak uang ya mas. Sukses sampean mas".

Saya ketawa. Karena tas yang saya bawa isinya hanya kertas-kertas data warga yang akan saya datangi. Bahkan, saya hanya membawa uang 10 ribu di dompet.

Rakyat kecil masih bisa bercanda dan membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan Anda?

*) ditulis pertama kali di FB Literasi Sumberanyar. Jumat, 14 Desember 2018.

Sabtu, 15 Desember 2018

Saudara dalam Kemanusiaan


Sepekan terakhir, saya bertemu beberapa warga di Dusun Ranurejo. Pertemuan ini dalam rangka mendata warga miskin atau terbilang miskin di lingkungan Desa Sumberanyar. Tugasnya sederhana, menemui warga dan melakukan verifikasi kependudukan serta mengambil gambar di beberapa sudut rumah warga.

Pada hari ketiga turun lapang, saya menemui warga dengan diantar Pak Bibit, Ketua RT 03 RW 02. Beliau menemani saya menemui warga di area wilayah tugas beliau.

Di sela perjalanan, Pak Bibit memberi tahu saya soal keunikan di daerahnya. Hal ini bermula karena saya agak bimbang saat ingin mengucapkan salam "assalamualaikum". Pasalnya, ada dua agama di Dusun Ranurejo: Islam dan Kristen. Masyarakatnya berbaur begitu dekat, sehingga tidak ada perbedaan yang mencolok dari identitas keagamaan di ornamen dan asesoris rumahnya.

"Santai saja, mas Farhan. Di sini sudah biasa pakai assalamualaikum. Orang beragama islam yang bertamu ke rumah orang kristen biasa pakai salam itu. Dan orang kristen ya biasa aja jawab juga", tutur Pak Bibit.

Sampailah saya di rumah Pak Selamet. Ketika saya mengambil data, hujan turun sangat lebat jelang maghrib. Di rumah Pak Selamet saya dan Pak Bibit berteduh. Bu Dwi, istri Pak Selamet membuatkan kami kopi. Di ruang tamu rumah Pak Selamet kami menyesap kopi pelan-pelan.

"Lah ini mas Farhan yang saya maksud. Bu Dwi ini muslim, dia punya adik Pak Budi yang kristen. Bu Dwi dinikahi Pak Selamet yang sejak awal sudah muslim. Mereka akur-akur saja. Gak ada masalah soal beda agama. Paling kalo mau tengkar ya urusan duit", jelas Pak Bibit. Kami tertawa.

Soal memakamkan orang meninggal, Pak Bibit juga memaparkan. "Di sini kalo ada yang meninggal ya biasa aja orang kristen menguburkan orang islam. Atau sebaliknya. Tapi saat di liang lahat ya orang seagama yang ngurus. Misal mengadzani gitu".

Hujan mulai reda. Kopi sudah tandas. Pak Bibit pamit pulang duluan karena mau mengambil atau beli rumput. 15 menit kemudian saya nyusul. Saya pamit. Tapi motor saya mogok karena kehujanan. Pak Selamet dan Pak Budi membantu saja. Pak Selamet menyenter ke posisi busi. Saya membuka tutup busi lalu meniupnya. Setelah berkali-kali saya stater akhirnya motor hidup. Saya menyalami Pak Selamet dan Pak Budi lalu saya pamit.

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam", Pak Selamet dan Pak Budi jawab hampir bersamaan.

****
Seperti hujan, perbedaan dalam beragama hakikatnya adalah peluang untuk saling mengenal dan menyejukkan. Ia turun dengan membawa misi damai bagi pemeluknya. Membasahi tanah yang tandus. Lalu tumbuh dengan harmoni.

Dari mereka saya belajar bahwa, perbedaan beragama bukan jadi peluang untuk saling menghina dan menyakiti melainkan untuk saling mengenal dan bercengkrama. Karena meski bukan saudara seiman tapi kita saudara dalam kemanusiaan.

*) ditulis pertama kali di facebook Literasi Sumberanyar, Rabu, 12 Desember 2018.

Kamis, 06 Desember 2018

Arif


"Makhluk kecil. Kembalilah dari tiada ke tiada..." ~Gie

Arif, hari ini adalah harimu. Hari yang mengharuskanmu pergi. Dari kefanaan menuju abadi. Kini tak ada lagi luka yang kau tanggung. Tapi, cerita tentangmu tetap abadi dalam benak kami yang mencintaimu.

Arif, di belakang rumahmu, kami menggali rumah, tempatmu beristirahat dengan tenang. Kami mengantarmu dengan cerita tentangmu. Kami mengenang tentangmu. Ada yang bercerita tentang kelakuanmu yang usil, tentang seteguk minuman kebersamaan, atau tentang caramu membawa motor, motor yang pada akhirnya mengantarmu pada maut di pagi hari. Arif, kini kau tak lagi duduk di Ranu Fantasi. di parkir yang kau jaga dengan cinta. Dengan sesederhanya dirimu. Dengan cinta yang sederhana.

Arif, kami harap kau sudah bahagia di sana. 
Kami mengantarmu dengan doa. Karena itu yang bisa kami lakukan untukmu.

Dari kami,
Yang mencintaimu.


*) ditulis pertama kali di facebook Literasi Sumberanyar. 28 Mei 2018.

Senin, 03 Desember 2018

Baca




Apa yang paling berharga dari hidup? 
Teman-teman yang hidup dalam kecukupan boleh jadi memilih harta. Sementara yang lain mungkin memilih keluarga, pekerjaan, hingga cinta.

Bisa saja kita memilih semua. Mengambil jarak terdekat dengan hal-hal yang semua orang menyukai kenyamanan itu.Tapi, pelan-pelan kita temukan ada orang-orang yang memilih meninggalkan itu semua. Berjarak dari materialisme, menghindari ruang-ruang gemerlap, dan menolak hedonis. Lalu memilih jalan hidup ala kadarnya. Sederhana. Ada satu ungkapan orang madura yang menafsirkan kesederhanaan itu. "kar-kar colpek". Mencari sekarang, dimakan sekarang. Besok cari lagi.

Di sela lipatan itu, ada orang yang masih menjaga dirinya dengan membaca. Membaca apa saja. Koran, bungkusan jajan, potongan kertas pelajaran, kertas iklan hingga membaca hidup.

Seperti kakek ini. Menjaga laku membaca hingga hari tua. Hari di mana tak cukup waktu lagi untuknya membuat satu perubahan sosial. Kecuali perubahan di kedalaman hatinya sendiri.

Apa kabar laku membaca kaum muda? 

*) ditulis pertama kali di dinding facebook Komunitas Literasi Sumberanyar, 8 November 2018.

Minggu, 02 Desember 2018

Empat Jam Bicara Literasi



(Peserta Workshop Literasi dari Situbondo)

Minggu (23/11), LP3M Unej mengadakan Workshop Literasi. Acara diikuti 40 peserta dari komunitas, pegiat rumah baca, guru dan akademisi setapal kuda.

Komunitas Literasi Sumberanyar termasuk peserta paling muda. Karena itu kami lebih memilih pasif. Mendengarkan jalannya diskusi dengan tenang dan mencatat hal-hal yang dirasa perlu untuk dicatat.

Rumah Literasi Banyuwangi dan Rumah Inspirasi jadi komunitas paling siap secara konsep dan gerakan. Mas Tunggul Harwanto, penggerak komunitas tersebut menyampaikan pencaipaian. "Gerakan kami berbasis rumah baca. Mendirikan 1000 rumah baca. Tapi bukan soal kuantitas. Yang terpenting sinergi atau keterhubungan antar rumah baca dengan kesemaan tekad dan tujuan: meningkatkan budaya baca. Terutama di akar rumput".

(Iman Suligi -Pendiri Kampoeng Batja Jember, Mohammad Farhan -Pendiri Komunitas Literasi Sumberanyar, Situbondo, dan Tunggul Herwanto -Pendiri Rumah Literasi Indonesia, Banyuwangi)

Akung Iman Suligi, pendiri Kampoeng Batja Jember, menyampaikan gagasannya. "Gerakan literasi tidak bisa langsung disandingkan dengan frasa memberantas buta huruf. Itu kejauhan. Hal-hal kecil yang luput dari pikiran adalah membiasakan anak-anak mau membaca: bungkus makanan, resep obat dan sebagainya lalu ajak mereka bicara dan diskusi kecil". Bagi akung, anak-anak membaca dengan fokus yang berbeda. Ada yang membaca untuk kesenangan, hobi atau sekadar mengisi waktu luang. Itu harus ditingkatkan. "Saya tidak ingin mengambil peran sekolah dan orang tua siswa. Jadi soal pemberantasan buta huruf itu tugas mereka".

Imam Sufyan, Koordinator GSM, menyampaikan pandangannya. "Komunitas literasi di Situbondo saya lihat jadi komunitas paling kere". Peserta ketawa. "Tujuan juga belum jelas. Haha". Tapi Imam Sufyan terlibat dalam menggerakkan literasi di beberapa lapisan masyarakat. Dari mahasiswa, santri, polisi sampai politisi. Basis gerakan di Situbondo lebih pada usaha merangsang kaum muda untuk membaca buku dan berdiskusi.

(Imam Sufyan, Koordinator Gerakan Situbondo Membaca)

Marlutfi Yoandinas melanjutkan. "Di Situbondo, komunitas-komunitas ini lahir dari kebiasaan ngopi bareng. Di warung kopi, teman-teman biasa ngobrol apa saja sekenanya. Tak disangka, dari obrolan-obrolan kecil itu muncullah komunitas-komunitas dan kegiatan macam Kampung langai, argopuro dan lain sebagainya.

Peserta yang lain juga menyampaikan gagasan dan pencapaian gerakan literasinya. Setelah semua peserta selesai menyampaikan usulan tentang kegiatan-kegiatan literasi ke depan, acara sampai pada kesimpulan. Acara tersebut memunculkan setidaknya 3 rencana besar: Jambore Literasi, Literasi Khusus Difabel, dan Literasi Sekolah.

Empat jam berlalu dengan rencana, mimpi dan harapan-harapan yang tumbuh pelan-pelan.

Salam Literasi.