Bu Toerah tinggal sendiri. Suaminya meninggal sejak 12 tahun yang lalu. Untuk menghidupi dirinya, ia jualan nasi pecel di depan rumahnya. Pekerjaan itu sudah ia geluti sejak tahun 1972.
"Mulai dulu jualan nasi pecel tapi gak sugih sugih juga, mas. Tapi juga gak melarat-melarat amat. Pokok e disyukuri wae", ujar ibu kelahiran tahun 1951 itu.
Ia kelahiran Kediri. Tapi, sejak menikah dengan Pak Muji, ia sudah tinggal di Ranurejo. Di berada rumah, ia mengenang masa kecil. Kepada saya ia bercerita sekelumit kisah saat ia di Kediri.
"Saya di Kediri Wates, mas. Keluarga saya di sana sudah tidak ada. Sudah meninggal semua. Saya tak bisa pulang lagi ke Kediri. Padahal saya kangen pulang ke tanah kelahiran. Bisa ketemu teman-teman. Tapi kayak e wes banyak yang meninggal".
Bu Toerah pernah sekolah. Tapi tidak tuntas. Karena orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya.
"Saya berhenti kelas 2 SD mas. Orang tua gak mampu. Tapi saya bisa baca dikit-dikit. Kalo sampean kan orang terdidik. Pintar".
Saya hanya tersenyum. Tidak menjawab. Dan memilih mendengarkan apa saja yang Bu Toerah ceritakan.
"Sampean pasti banyak uang. Gajinya besar. Itu di tasnya banyak uang ya mas. Sukses sampean mas".
Saya ketawa. Karena tas yang saya bawa isinya hanya kertas-kertas data warga yang akan saya datangi. Bahkan, saya hanya membawa uang 10 ribu di dompet.
Rakyat kecil masih bisa bercanda dan membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan Anda?
*) ditulis pertama kali di FB Literasi Sumberanyar. Jumat, 14 Desember 2018.






