Sabtu, 15 Desember 2018

Saudara dalam Kemanusiaan


Sepekan terakhir, saya bertemu beberapa warga di Dusun Ranurejo. Pertemuan ini dalam rangka mendata warga miskin atau terbilang miskin di lingkungan Desa Sumberanyar. Tugasnya sederhana, menemui warga dan melakukan verifikasi kependudukan serta mengambil gambar di beberapa sudut rumah warga.

Pada hari ketiga turun lapang, saya menemui warga dengan diantar Pak Bibit, Ketua RT 03 RW 02. Beliau menemani saya menemui warga di area wilayah tugas beliau.

Di sela perjalanan, Pak Bibit memberi tahu saya soal keunikan di daerahnya. Hal ini bermula karena saya agak bimbang saat ingin mengucapkan salam "assalamualaikum". Pasalnya, ada dua agama di Dusun Ranurejo: Islam dan Kristen. Masyarakatnya berbaur begitu dekat, sehingga tidak ada perbedaan yang mencolok dari identitas keagamaan di ornamen dan asesoris rumahnya.

"Santai saja, mas Farhan. Di sini sudah biasa pakai assalamualaikum. Orang beragama islam yang bertamu ke rumah orang kristen biasa pakai salam itu. Dan orang kristen ya biasa aja jawab juga", tutur Pak Bibit.

Sampailah saya di rumah Pak Selamet. Ketika saya mengambil data, hujan turun sangat lebat jelang maghrib. Di rumah Pak Selamet saya dan Pak Bibit berteduh. Bu Dwi, istri Pak Selamet membuatkan kami kopi. Di ruang tamu rumah Pak Selamet kami menyesap kopi pelan-pelan.

"Lah ini mas Farhan yang saya maksud. Bu Dwi ini muslim, dia punya adik Pak Budi yang kristen. Bu Dwi dinikahi Pak Selamet yang sejak awal sudah muslim. Mereka akur-akur saja. Gak ada masalah soal beda agama. Paling kalo mau tengkar ya urusan duit", jelas Pak Bibit. Kami tertawa.

Soal memakamkan orang meninggal, Pak Bibit juga memaparkan. "Di sini kalo ada yang meninggal ya biasa aja orang kristen menguburkan orang islam. Atau sebaliknya. Tapi saat di liang lahat ya orang seagama yang ngurus. Misal mengadzani gitu".

Hujan mulai reda. Kopi sudah tandas. Pak Bibit pamit pulang duluan karena mau mengambil atau beli rumput. 15 menit kemudian saya nyusul. Saya pamit. Tapi motor saya mogok karena kehujanan. Pak Selamet dan Pak Budi membantu saja. Pak Selamet menyenter ke posisi busi. Saya membuka tutup busi lalu meniupnya. Setelah berkali-kali saya stater akhirnya motor hidup. Saya menyalami Pak Selamet dan Pak Budi lalu saya pamit.

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam", Pak Selamet dan Pak Budi jawab hampir bersamaan.

****
Seperti hujan, perbedaan dalam beragama hakikatnya adalah peluang untuk saling mengenal dan menyejukkan. Ia turun dengan membawa misi damai bagi pemeluknya. Membasahi tanah yang tandus. Lalu tumbuh dengan harmoni.

Dari mereka saya belajar bahwa, perbedaan beragama bukan jadi peluang untuk saling menghina dan menyakiti melainkan untuk saling mengenal dan bercengkrama. Karena meski bukan saudara seiman tapi kita saudara dalam kemanusiaan.

*) ditulis pertama kali di facebook Literasi Sumberanyar, Rabu, 12 Desember 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar