Jumat, 23 November 2018

Cak Opek

Cak Taufik Mohammad sampai di Bakso Pensiun sekitar pukul 12.45. Ia kawan kuliah saya dulu. Pernah satu pondok juga, dan belajar bersama di salah satu bidang kesenian di Pondok Pesantren Al-Jauhar Jember.

Soal kesenian, khususnya musik, saya banyak belajar darinya. Bagaimana mengatur tempo, variasi bermain, sampai penataan sound agar enak didengar. Dalam beberapa kesempatan, saya blepotan. Gak nututi cara bermain Cak Opek. Tapi, namanya seorang kawan, sekecil kekeliruan bermain bisa jadi sebuah kemesraan yang lain. Tak jarang ia tersenyum sambil mengedip-ngedipkan mata atau mengangkat tangan setinggi kepala lalu menggoyang-goyangkan ketika melihat main saya keluar jalur hehe.

Hari ini, intensitas bermusik itu makin berkurang. Cak Opek dan saya sudah jarang sekali bersentuhan dengan alat-alat musik yang dulu pernah sangat karib. Mungkin semua kembali pada pilihan hidup yang harus ditempuh masing-masing. Setelah masa-masa belajar itu, ia memilih jalur usaha mandiri bersama istri. Dan menekuninya. Sementara saya ada di lajur yang lain. Yang penting, tetap sama soal hati: menjaga persaudaraan dan merawat kebersamaan.

"Sekarang, kuncinya jangan gengsi wes. Apapun pekerjaannya, lakukan. Yang penting halal dan anak istri bisa makan dg bahagia", ucapnya.

Terima kasih sudah sampir, Cak Opek. Selamat jadi bapak, ya. Semoga buah hatimu bersama Mbak Fitri Pipit Aningsih jadi anak yang sholeh. Seperti yang kamu katakan,  "anakku lahir pas subuh. Aku berdoa semoga anakku jadi kiai".

Amin.

Rabu, 14 November 2018

Hujan Membawa Rangkuman Rindu



Di antara teh dan pohon yang kedinginan karena hujan, ada bayangan masa kecil yang coba saya kumpulkan pelan-pelan.  Saya rindu teman sekampung: Cak Nong, Madi, Mamat, dan almarhum Anas. Bersama mereka, saya biasa mandi hujan, mancing di dam bugis, main tembak-tembakan dari pelepah pisang, atau bikin pedang-pedangan dari kayu pohon kapo (madura).

Hal-hal kecil itu tak mungkin lagi diulang hari ini. Jarak dan usia sudah terlampau jauh. Teman-teman menempuh sekian jengkal harapan-harapan di ujung sana. Sementara saya berada di ujung yang lain. Mereka sudah menikah. Empat tahun kemudian saya menyusul mereka.

Tentu masih bayak rindu yang lain yang layak dirawat baik-baik. Kenangan-kenangan itu tak lain adalah bekal hiburan yang murah untuk hari ini dan masa tua nanti [].