Minggu, 02 Desember 2018

Empat Jam Bicara Literasi



(Peserta Workshop Literasi dari Situbondo)

Minggu (23/11), LP3M Unej mengadakan Workshop Literasi. Acara diikuti 40 peserta dari komunitas, pegiat rumah baca, guru dan akademisi setapal kuda.

Komunitas Literasi Sumberanyar termasuk peserta paling muda. Karena itu kami lebih memilih pasif. Mendengarkan jalannya diskusi dengan tenang dan mencatat hal-hal yang dirasa perlu untuk dicatat.

Rumah Literasi Banyuwangi dan Rumah Inspirasi jadi komunitas paling siap secara konsep dan gerakan. Mas Tunggul Harwanto, penggerak komunitas tersebut menyampaikan pencaipaian. "Gerakan kami berbasis rumah baca. Mendirikan 1000 rumah baca. Tapi bukan soal kuantitas. Yang terpenting sinergi atau keterhubungan antar rumah baca dengan kesemaan tekad dan tujuan: meningkatkan budaya baca. Terutama di akar rumput".

(Iman Suligi -Pendiri Kampoeng Batja Jember, Mohammad Farhan -Pendiri Komunitas Literasi Sumberanyar, Situbondo, dan Tunggul Herwanto -Pendiri Rumah Literasi Indonesia, Banyuwangi)

Akung Iman Suligi, pendiri Kampoeng Batja Jember, menyampaikan gagasannya. "Gerakan literasi tidak bisa langsung disandingkan dengan frasa memberantas buta huruf. Itu kejauhan. Hal-hal kecil yang luput dari pikiran adalah membiasakan anak-anak mau membaca: bungkus makanan, resep obat dan sebagainya lalu ajak mereka bicara dan diskusi kecil". Bagi akung, anak-anak membaca dengan fokus yang berbeda. Ada yang membaca untuk kesenangan, hobi atau sekadar mengisi waktu luang. Itu harus ditingkatkan. "Saya tidak ingin mengambil peran sekolah dan orang tua siswa. Jadi soal pemberantasan buta huruf itu tugas mereka".

Imam Sufyan, Koordinator GSM, menyampaikan pandangannya. "Komunitas literasi di Situbondo saya lihat jadi komunitas paling kere". Peserta ketawa. "Tujuan juga belum jelas. Haha". Tapi Imam Sufyan terlibat dalam menggerakkan literasi di beberapa lapisan masyarakat. Dari mahasiswa, santri, polisi sampai politisi. Basis gerakan di Situbondo lebih pada usaha merangsang kaum muda untuk membaca buku dan berdiskusi.

(Imam Sufyan, Koordinator Gerakan Situbondo Membaca)

Marlutfi Yoandinas melanjutkan. "Di Situbondo, komunitas-komunitas ini lahir dari kebiasaan ngopi bareng. Di warung kopi, teman-teman biasa ngobrol apa saja sekenanya. Tak disangka, dari obrolan-obrolan kecil itu muncullah komunitas-komunitas dan kegiatan macam Kampung langai, argopuro dan lain sebagainya.

Peserta yang lain juga menyampaikan gagasan dan pencapaian gerakan literasinya. Setelah semua peserta selesai menyampaikan usulan tentang kegiatan-kegiatan literasi ke depan, acara sampai pada kesimpulan. Acara tersebut memunculkan setidaknya 3 rencana besar: Jambore Literasi, Literasi Khusus Difabel, dan Literasi Sekolah.

Empat jam berlalu dengan rencana, mimpi dan harapan-harapan yang tumbuh pelan-pelan.

Salam Literasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar