(Peserta Workshop Literasi dari Situbondo)
Minggu (23/11), LP3M Unej mengadakan Workshop
Literasi. Acara diikuti 40 peserta dari komunitas, pegiat rumah baca, guru dan
akademisi setapal kuda.
Komunitas Literasi Sumberanyar termasuk peserta paling
muda. Karena itu kami lebih memilih pasif. Mendengarkan jalannya diskusi dengan
tenang dan mencatat hal-hal yang dirasa perlu untuk dicatat.
Rumah Literasi Banyuwangi dan Rumah Inspirasi jadi komunitas
paling siap secara konsep dan gerakan. Mas Tunggul
Harwanto, penggerak komunitas tersebut menyampaikan pencaipaian.
"Gerakan kami berbasis rumah baca. Mendirikan 1000 rumah baca. Tapi bukan
soal kuantitas. Yang terpenting sinergi atau keterhubungan antar rumah baca
dengan kesemaan tekad dan tujuan: meningkatkan budaya baca. Terutama di akar
rumput".
Akung Iman Suligi,
pendiri Kampoeng Batja Jember, menyampaikan gagasannya. "Gerakan literasi
tidak bisa langsung disandingkan dengan frasa memberantas buta huruf. Itu
kejauhan. Hal-hal kecil yang luput dari pikiran adalah membiasakan anak-anak
mau membaca: bungkus makanan, resep obat dan sebagainya lalu ajak mereka bicara
dan diskusi kecil". Bagi akung, anak-anak membaca dengan fokus yang berbeda.
Ada yang membaca untuk kesenangan, hobi atau sekadar mengisi waktu luang. Itu
harus ditingkatkan. "Saya tidak ingin mengambil peran sekolah dan orang
tua siswa. Jadi soal pemberantasan buta huruf itu tugas mereka".
Imam Sufyan, Koordinator GSM, menyampaikan pandangannya. "Komunitas literasi di
Situbondo saya lihat jadi komunitas paling kere". Peserta ketawa.
"Tujuan juga belum jelas. Haha". Tapi Imam Sufyan terlibat dalam
menggerakkan literasi di beberapa lapisan masyarakat. Dari mahasiswa, santri,
polisi sampai politisi. Basis gerakan di Situbondo lebih pada usaha merangsang
kaum muda untuk membaca buku dan berdiskusi.
Marlutfi Yoandinas melanjutkan. "Di Situbondo, komunitas-komunitas ini lahir dari
kebiasaan ngopi bareng. Di warung kopi, teman-teman biasa ngobrol apa saja
sekenanya. Tak disangka, dari obrolan-obrolan kecil itu muncullah
komunitas-komunitas dan kegiatan macam Kampung langai, argopuro dan lain
sebagainya.
Peserta yang lain juga menyampaikan gagasan dan
pencapaian gerakan literasinya. Setelah semua peserta selesai menyampaikan usulan tentang kegiatan-kegiatan literasi ke depan, acara sampai pada kesimpulan. Acara tersebut
memunculkan setidaknya 3 rencana besar: Jambore Literasi, Literasi Khusus
Difabel, dan Literasi Sekolah.
Empat jam berlalu dengan rencana, mimpi dan
harapan-harapan yang tumbuh pelan-pelan.
Salam Literasi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar