Rabu, 21 Agustus 2019

Situbondo Hari Ini*


Bayangkan suatu hari nanti, kota yang kamu diami menjadi sangat membosankan. Kamu menjadi malas keluar rumah: sekadar melihat langit dan tanah tempatmu lahir dan menemukan cinta. Kamu memilih mendiami kamar, lalu merenungi apa yang terjadi di kotamu.
Di sela perenungan itu, kamu merasakan ternyata kotamu tidak lebih menyenangkan dibanding kamar rumahmu.  Kotamu yang ramai itu, hanyalah keramaian yang semu. Tidak bermakna. Alasanmu, pemangku kotamu adalah sebaik-sebaik pembuat acara seremoni belaka.
Dan, di hari ulang tahun kotamu yang ke-201 ini, kamu melihat mereka masih asyik dengan programnya sendiri-sendiri.
                                                                        ***
Mari menyisir pandangan ke tiap-tiap penjuru kota Situbondo. Lihatlah, kota ini sedang berbenah. Taman dibangun, pantai disolek, dan pegunungan dipermak. Semua itu dilakukan karena pemerintah ingin menjadi penghibur yang baik. Pemimpin yang menyenangkan. Tapi, sepertinya, mereka lupa menjadi teman dan sahabat.
Loh, kok bisa?
Mari merangkum jejak pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah. Kita mulai dari timur. Di Asembagus, dibangun taman kota (tamkot) bernama Second City Situbondo. Taman itu dibangun di atas tanah yang sebelumnya merupakan pasar tradisional Asembagus. Kini, pasar itu dibongkar lalu dipindah ke utara tamkot dan berubah menjadi pasar modern.
Di tengah taman, berdiri satu tugu yang di atasnya dibuat patung buah asem. Katakanlah itu bagus, agar cocok menjadi Asem-bagus.
Geser sedikit ke barat, ke Desa Lamongan. Ada satu taman bernama sialan Siwalan. Yang menarik, di sisi barat taman ada bangunan berbentuk globe (mirip Universal Studio) yang di tengahnya diberi tulisan Bumi Sholawat Nariyah. Lantas, apa hubungannya Siwalan dengan globe bertulis Bumi Sholawat Nariyah?
Well, semangatnya baik, kok. Agar masyarakat lebih paham dan haqquul yaqin bahwa kota ini merupakan garda depan syiar agama melalui selawatan.
Geser lagi ke barat, ada taman lanceng, Grand Pathek, Kampung Kerapu, dan Plaza Rengganis. Dari sekian pembangunan itu, mana kah yang benar-benar merepresentasikan karakter, semangat lokal, atau identitas Situbondo secara utuh? Apakah pembangunan itu semua betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat Situbondo? Tik..tok..tik..tok..tik..tok..
Yogi Pratama, Ketua Badko HMI Jawa Timur, dalam esainya berjudul Quo Vadis Pembangunan Taman Kota Situbondo menilai, pembangunan taman kota di Situbondo tidak tepat sasaran karena tidak menyentuh langsung ke kebutuhan primer masyarakat Situbondo. Menurut Yogi, masyarakat lebih membutuhkan lapangan pekerjaan, pemberdayaan usaha mandiri, dan edukasi atau pendidikan yang merangkul masyarakat miskin.
Peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) harusnya menjadi momentum perenungan kondisi sosial di Situbondo. Hal-hal yang bersifat seremonial, dan pambangunan fisik kota alangkah lebih baik apabila dilengkapi dengan pembangunan Sumber Daya Manusianya (SDA) secara lebih intens dan berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Situbondo mencatat dalam rentang 2012 hingga 2016, rata-rata angka lama sekolah penduduk Situbondo berada di angka 5,68 tahun. Statistik BPS memang menunjukkan peningkatan angka lama sekolah pada tiap tahunnya. Tetapi, angka itu masih jauh dari harapan kemendikbud yang memprogramkan wajib belajar 12 tahun. Padahal, syarat minimal masuk dunia kerja harus tuntas sekolah minimal SMA dan sederajat. 
Data termutakhir yang ditampilkan BPS tersebut seharusnya mendapat perhatian serius bagi pemerintah Situbondo. Masih banyaknya anak putus sekolah harus segera dicari solusi konkretnya. Kondisi itu, akan selalu stagnan apabila pemerintah Situbondo masih bermain-main di wilayah pencitraan dan seremonial belaka.
Pebangunan fisik kota yang beberapa tahun belakang ini dikebut demi menunjang program tahun kunjungan wisata 2019 harus segera diakhiri. Sudah saatnya pemerintah lebih menggiatkan program-program yang substansial. Yang menyentuh langsung pada kebutuhan hidup masyarakat. Yang memberikan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang siapa dan dibangun atas semangat apa Situbondo ini. Siapa itu KHR. As’ad Syamsul Arifin, Jenderal Nidin, Ismail Bakri dan apa peran mereka terhadap Situbondo?
Lebih jauh, jika memang kota ini mengaku sebagai Bhumi Sholawat Nariyah, syiar seperti apa yang sudah dilakukan? Kapan kota ini terakhir kali mengadakan parade atau lomba selawatan antar daerah dan kota?
Memang sepele. Tapi, bukankah semangat syiar itu adalah mengajak orang lain untuk bersama-sama membumikan muatan syiar itu, kemudian pelan-pelan belajar mengenal identitas dirinya? Jangan sampai semangat syiarnya baik, tapi dijalankan dengan cara yang kurang tepat.

Momentum Harjakasi perlu dimanfaatkan dengan tepat. Yakni merayakannya dengan cara 'turun gunung' lebih banyak. Dan, mendengarkan suara dari bawah. Suara-suara di bawah. Hal itu penting untuk menghimpun wacana kolektif masyarakat Situbondo sebagai upaya membangun harmoni dan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.  
Saya yakin, tidak ada yang ingin menghancurkan kotanya sendiri. Tidak ada seseorang yang hatinya menaruh cinta kepada tempat yang asing selain kotanya sendiri. Tidak ada yang berniat saling menyingkirkan. Percayalah. Kecuali hatimu tertanam kecurigaan yang tak berbatas.
Selamat ulang tahun, Situbondo.  Dari saya, lelaki yang tidak pernah paham mengapa ulang tahun perlu untuk dirayakan.


Tabik!
*) terbit pertama kali di takanta.id, 15 Agustus 2019 dengan judul Harjakasi Nasibmu Kini

Sabtu, 27 Juli 2019

Diskusi Penyelamatan Cagar Budaya: Sebuah Usaha Membuka Mata Pemerintah Situbondo



“Persoalan kita, teman-teman pegiat cagar budaya sekarang ini adalah berlawanan pada orang-orang yang belum tahu, kadang kala tidak mau tahu juga,” Marlutfi Yoandinas melontarkan mukadimahnya dalam sebuah diskusi bersama pegiat sejarah Situbondo pada Rabu pagi. 

Diskusi berselang di halaman rumah Irwan Rakhday, Gang Sorakerta 11 Asembagus, di  bawah naungan pohon mangga. Karpet warna hijau dan merah terhampar berurutan di antara dua lincak yang mengapit di sisi kanan dan tumpukan kayu di sisi kiri. 

Di ujung timur, gardu kuno dengan ornamen khas situbondoan menutup sebagai background. Sementara di ujung barat, karpet ditindih dengan dua replika miniatur candi setinggi 50 sentimeter sebagai pintu masuk.

Di dekat pintu masuk, terdapat tungku dari tumpukan bata. Apinya menyala. Memanaskan penay di atasnya yang berisi air. Di sebelah tungku ada meja dengan toples berisi gula dan kopi. Peserta terlihat bergantian membuat kopi sendiri, lalu melanjutkan diskusi. Pukul 10.15 diskusi dimulai.

Marlutfi memulai dengan menjelaskan tantangan gerakan pegiat sejarah Situbondo hari ini. “Lawan dari gerakan teman-teman ini utamanya kan pemerintah, yang memposisikan dirinya tidak mau tahu,”. Marlutfi dan peserta tertawa tipis. 

Marlutfi melanjutkan. “Sudah berkali-kali teman-teman menyuarakan ini itu tapi kadang kala mereka acuh saja, ya. Tidak mau tahu”.

Kondisi itu, menurut Marlutfi seharusnya tidak melunturkan semangat teman-teman pegiat cagar budaya Situbondo untuk terus bergerak. Konsisten menghimpun data sejarah dan mengkoordinasikannya antar anggota. Kemudian, pelan-pelan melakukan teknik pemunculan, yakni segenap informasi itu bisa terdistribusi dengan baik ke masyarakat Situbondo. Harapannya, ketika itu menjadi informasi kolektif yang terus dibicarakan, pemerintah Situbondo bersedia membuka mata.

“Saya kira, setiap gerakan yang berangkat dari bawah itu akan punya akar atau dasar yang kuat. Sebagaimana pertemuan ini kan bukan dalam rangka mengunduh sesuatu, melainkan untuk belajar dan saling menguatkan”, jelas Marlutfi.  

Marlutfi kemudian mepersilakan Irwan Rakhday melanjutkan diskusi.

Irwan Rakhday menulis status di facebook, enam hari sebelum acara. Isinya sebuah undangan terbuka pada 10 Juli 2019 yang ditujukan kepada seluruh pegiat cagar budaya di Situbondo. Irwan mengangkat tema diskusi: Ikhtiar Swadaya Penyelamatan Cagar Budaya Lokal. Status Irwan itu kemudian ia bagikan ke beberapa dinding facebook teman secara personal dan komunitas. Tertulis 45 dinding facebook yang ditandai oleh Irwan.   

“Tema ini kan sebenarnya pembicaraan yang sudah-sudah. Ikhtiar penyelamatan itu juga sudah kita lakukan bersama-sama, ya. Banyak tantangan dan dinamika”, buka Irwan.

Menghadapi segala bentuk tantangan dan dinamika pergerakan itu, Irwan ingin teman-teman menyamakan persepsi. Karena, Irwan paham betul tantangan gerakan teman-teman pegiat cagar budaya di Situbondo sering berhadapan dengan birokrasi yang bebal. Meminggirkan posisi teman-teman pegiat cagar budaya yang secara konsisten bergerak dalam rangka penyelamatan aset budaya lokal.

“Meski tidak ada hirarki, saya harap teman-teman dari komunitas yang berbeda ini memaksimalkan otoritasnya masing-masing, tetapi berjalan pada muara yang sama, yakni merawat kecagarbudayaan lokal dan meluruskan narasi sejarah Situbondo yang kurang tepat itu”, lanjut Irwan.

Komunitas yang dimaksud Irwan antara lain: LSM Wirabumi, Rumah Sejarah Balumbung (RSB), Situbondo Residual Concourse (SRC), Generasi Sadar Sejarah Situbondo (Gessit), Info Warga Situbondo (IWS), Takanta.id, dan Literasi Sumberanyar.

Irwan juga menjelaskan bahwa diskusi ini diselenggarakan untuk meresmikan satu komunitas pendukung, yakni Pusat Informasi Cagar Budaya Situbondo (PICB). PICB yang swadaya ini diharapkan dapat menjadi rujukan data arkeologi di Situbondo.

“Jadi, data arkeologi hasil observasi kita, teman-teman, itu bisa dikumpulkan di PICB ini. Tujuannya ketika ada yang bertanya atau membutuhkan informasi data arkeologi, rujukannya ya ke PICB ini”, jelas Irwan.

Ada dua bentuk produk yang akan digarap PICB, data arkeologi manual dan virtual. Data arkeologi manual bisa diakses dengan mendatangi langsung ke PICB. Data dapat difotokopi. Sedangkan yang virtual bisa diakses melalui website PICB yang sedang dalam penggarapan.

Kim dari SRC kemudian menjelaskan keterhubungan tiga komunitas tersebut yang memiliki peran strategis. PICB sebagai penyimpan data arkeologi atau registrasi cagar budaya, RSB sebagai tempat penyimpanan artefak, SRC sebagai penghimpun dan mengolah referensi data sejarah yang telah dinarasikan. Tiga komunitas tersebut akan dikawal oleh LSM Wirabumi yang fokus bergerak di bidang advokasi.

“Dari semua data yang dihimpun itu, output nya nanti berupa buku. Buku sejarah Situbondo”, jelas Kim. 

Pada teknisnya, Kim mengajak Marlutfi untuk terlibat dalam proses pembuatan buku sejarah tersebut.

Saat diskusi berlangsung, saya duduk diantara Ilyas dan Faris. Ilyas merupakan warga Asembagus yang tertarik pada sejarah lokal. Sementara Faris adalah anggota Gessit. Menurut Faris, setelah diresmikan pada 2017, Gessit secara khusus bergerak sebagai distributor informasi sejarah lokal di kalangan pelajar di Situbondo. Di samping Ilyas, Novianto duduk sambil sesekali menulis catatan. Ia datang mewakili IWS.

Di depan peserta diskusi berjejer dua piring berisi pisang goreng dan tiga toples kecil berisi jagung marning. “Monggo gorengannya, mas. Jangan nulis terus”, ajak saya pada Novianto. Saya tersenyum, Novinato juga tersenyum lalu menyimak lagi dan mencatat lagi.

Pemerintah Mengecewakan

Dalam upaya penyelamatan cagar budaya lokal, Irwan pesimis terhadap peran pemerintah. Dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo. Irwan menilai, instansi tersebut gerakannya terbilang setengah hati, bahkan tidak serius.

“Kalau kita hanya menyandarkan pada peran pemerintah, yang ada hanya kekecewaan”, keluh Irwan.

Penilaian Irwan bukan tanpa alasan. Irwan bercerita pengalamannya lagi. Irwan pernah melakukan observasi ke Situs Melek baru-baru ini. Ia mendapati struktur situs ada yang rusak. Hal tersebut kemudian disuarakan oleh pegiat cagar budaya Asembagus, namun tidak kunjung ada respon dari dinas.

Kasus lain, Irwan menemukan satu artefak yang datanya tertulis milik Situbondo. Artefak tersebut didata oleh Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala (SPSP) pada tahun 1988, SPSP kemudian berganti nama menjadi BPCB. Artefak itu masih atas kepemilikan seseorang atau pribadi. Ia melaporkan itu pada orang dinas. Dengan harapan dinas berkenan “membawa pulang” artefak tersebut sebagai upaya penyelamatan aset budaya lokal. Tetapi orang dinas selalu bilang tidak ada anggaran untuk hal itu.

“Padahal untuk benda semacam itu butuh langkah taktis. Butuh cepat untuk diselamatkan. Saya khawatir benda itu hilang di pasar gelap jika tidak segera dikuasai oleh pemerintah daerah secara resmi”, harap Irwan.

Upaya Irwan menyelamatkan aset budaya lokal itu sering mendapat tanggapan miring. Ia dan beberapa pegiat cagar budaya dianggap akan membisniskan atau menjual temuan benda-benda cagar budaya itu. Oleh karena itu Irwan berpendapat bahwa benda-benda yang diduga maupun yang telah resmi sebagai cagar budaya harus dikuasai atau atas kepemilikan lembaga.

“Kalau dikuasai pribadi, ada kemungkinan anak-cucu orang tersebut tidak paham pentingnya benda cagar budaya itu lalu menjualnya”, tutur Irwan.

Cara lain yang Irwan dan teman-teman pegiat cagar budaya lakukan yakni dengan mendekati kolektor. Langkah ini bukan untuk mejual-belikan benda-benda cagar budaya itu tetapi untuk menghimpun informasi atau penelurusan kemungkinan benda-benda cagar budaya itu berada di tangan kolektor. Sebagaimana batu cagar budaya dengan data tahun 1395 saka yang ditemukan Irwan dan Kim berada di kolektor dan berhasil diselamatkan. Cara ini tidak pernah dilakukan oleh pemerintah daerah.  

Pemerintah daerah sering alpa kalau benda cagar budayanya telah diperjualbelikan. Karena pemerintah tidak pernah turun untuk menginventarisasi benda-benda cagar budaya yang ada di wilayahnya.

“Kita yang tahu itu ya miris.Makanya kolektor itu kita dekati. Kita pepet. Untuk mengetahui rekam jejaknya benda itu dari mana. Nah, pemerintah itu tidak bisa mengendus pasar gelap itu”, lanjut Kim.

Kim bercerita pengalamannya ketika berkunjung ke Kukusan. Ia mendapati warga di daerah tersebut menemukan benda cagar budaya. Termasuk emas. Warga penemu emas melapor ke kepala desa. Tetapi kepala desa tidak mengetahui bahwa benda itu sangat penting.

“Pak, kaule nemu emas. Mana emasnya? Sobung e jhuel.”, Kim menirukan dialog seorang warga dengan kepala desa.

Seketika semua peserta diskusi tertawa. Sementara Irwan meminta Ilyas untuk menghidupkan api di tungku. Karena airnya sudah dingin, sementara peserta yang lain hendak membuat kopi. Ilyas kebetulan duduk di dekat tungku.

Undang-undang Cagar Budaya

Marlutfi menyapu pandangan ke semua peserta diskusi, lalu mencatat sesuatu di gawainya. Kemudian, ia mengarahkan diskusi pada topik undang-undang cagar budaya.

“Apakah gerakan teman-teman ini melanggar peraturan kecagarbudayaan?”, tanya Marlutfi.

“Tidak”, Kim menjawab seketika.

“Undang-undang cagar budaya yang terbaru itu memperbolehkan hak kepemilikan benda cagar budaya secara perorangan”, lanjut Kim.

“Dalam rangka penyelamatan kan, mas”, sela Marlutfi.

Kim menyinggung pemerintah daerah yang sering tidak paham  tentang mekanisme kepemilikan benda yang diduga maupun yang sudah resmi cagar budaya.

“Ketika kita blusukan lalu menemukan barang arkeolog, maka instansi, institusi, maupun birokrasi tidak boleh serta merta mengambil barang itu. Karena itu hak pemilik si penemu”, jelas Kim.

Kim merujuk pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pada Bab IV pasal 12 ayat 1 dijelaskan bahwa, setiap orang dapat memiliki dan/atau menguasai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang.

“Tetapi ada catatan lain ketika barang itu ditemukan, maka si penemu harus melaporkan. Saat melapor, pihak penerima laporan tidak boleh menyita barang itu karena itu miliknya si penemu. Baru ketika sudah dilakukan penelitian oleh BPCB dan resmi dinyatakan benda cagar budaya, barang itu boleh ditebus”, lanjut Kim.

Pernyataan Kim sesuai dengan isi Pasal 16 ayat (1) Cagar Budaya yang dimiliki setiap orang dapat dialihkan kepemilikannya kepada negara atau setiap orang lain; (3) pengalihan kepemilikan sebagaimana ayat 1 dapat dilakukan dengan cara diwariskan, dihibahkan, ditukarkan, dihadiahkan, dijual, diganti rugi dan/atau penetapan atau putusan pengadilan; (4) Cagar Budaya yang telah dimiliki oleh Negara tidak dapat dialihkan kepemilikannya.

Harapan Baik

Pergerakan teman-teman pegiat cagar budaya diharapkan dapat diaktualisasikan. Segenap ide dan informasi sejarah lokal dapat dikonsep menjadi sebuah pertunjukan budaya. Hal itu dipercaya dapat mendekatkan pemahaman sejarah lokal kepada generasi muda secara lebih ringan dan menyenangkan.

“Sejarah lokal, khususnya di Asembagus itu menarik kalau dibuat pertujukan teater atau drama kolosal gitu”, saran Agus Radjana, seniman Asembagus yang dari awal diskusi lebih banyak mendengarkan.

Sejarah yang dimaksud Pak Agus yakni sejarah 5 September 1947. Saat itu terjadi agresi militer Belanda di Asembagus. Agresi tersebut menjadikan Asembagus sebagai benteng terakhir pertahanan Situbondo melawan Belanda. Pertempuran itu terjadi di Pariopo dengan tokoh atau pahlawan lokal bernama Ismail Bakri.

“Ini harapan baik. Kita tidak perlu bagusnya, tetapi spirit perjuangan melawan penjajah oleh pejuang di Asembagus ini tersampaikan. Terutama dalam rangka menumbuhkan semngat patriotisme di kalangan generasi milenial”, tutup Pak Agus.

Menanggapi ide Pak Agus, Iwenk dari RSB menginginkan keterhubungan antar komunitas berjalan dengan baik dan intens. Agar setiap hal yang direncanakan menjadi satu distribusi informasi sejarah yang valid. Tidak lagi fiksi atau fiktif. Senada dengan Iwenk, Agung dari Pokdarwis Situbondo juga optimis gerakan teman-teman pegiat cagar budaya dan sejarah ini menjadi daya tawar yang baik untuk pariwisata. Kuncinya kolaborasi.

Marlutfi menyisir pandangan ke semua peserta diskusi. Ia memastikan peserta diskusi tidak ada yang terlewat untuk menyampaikan pendapatnya. Peserta bilang cukup. Marlutfi menutup diskusi dengan singkat.

“Teruslah memperbanyak diri dengan ide-ide kreatif”, tutupnya.

Mereka, yang berkumpul selama tiga jam ini, bukanlah orang-orang barisan sakit hati, yang terlempar atau tidak dapat jatah kursi di pemerintahan kota. Tetapi, mereka duduk bersama dengan persamaan rasa: kesadaran kolektif tentang ketidakberpihakan pemerintah kota terhadap pegiat cagar budaya dan sejarah. Mereka berkumpul, ngopi, diskusi, berusaha berbuat yang baik untuk kotanya. Lalu mengulanginya dengan cara yang menyenangkan. Karena, memang seperti itulah seharusnya hidup ini dijalani [].

Senin, 15 Juli 2019

Takanta: Dua Tahun (Semoga) Menjadi Diri Sendiri*



Apakah setiap hal perlu dirayakan? Bagaimana cara merayakannya?

Setiap bulan Juli tiba, saya berusaha menikmatinya dengan biasa. Melewati setiap pergantian tanggalnya tanpa menyiapkan sesuatu yang spesial. Padahal, satu hari di bulan itu, saya menerimanya sebagai hari saya dilahirkan. Sebagaimana yang tercatat pada akta kelahiran dan ijazah, tanggal 8 Juli ini: meski tanpa balon, kue tar dan nyala lilin, harusnya saya juga merayakannya lalu berlagak bahagia.

Bulan ini, sudah 26 tahun saya hidup. Diberi kesempatan oleh Allah. Sejauh itu pula saya tidak sekalipun merayakan ulang tahun. Saya selalu gagal merayakan dan dirayakan. Saya gagal merayakan karena pembiasaan orang tua saya sejak kecil yang tidak pernah mau merayakan ulang tahun. Sebagaimana orang desa pada umumnya kala itu.

Teman-teman sekolah saya juga gagal merayakan ulang tahun saya. Karena di bulan Juli biasanya sudah masuk masa libur sekolah. Libur semester genap. Belakangan saya menyadari lahir di bulan Juli ternyata memberi saya bahagia yang lain. Setidaknya, saya terhindar dari lemparan tepung dan telur di sekolah.

Apakah Anda mengalaminya? Saya ucapkan selamat.

Tunggu dulu. Mengapa ada tepung dan telur di perayaan ulang tahun? Bukankah dua benda itu lebih cocok diracik atau diolah menjadi kue, perenyah makanan dan semacamnya. Sehingga lebih tepat guna dan bermanfaat. Apakah kita terlambat membayangkan bahwa ada orang-orang di ujung sana yang kesulitan membeli bahan meskipun hanya tepung dan telur. Sehingga perayaan dengan cara seperti itu tidak menjadi lumrah yang salah kaprah.

Lebih jauh lagi, mengapa terbiasa pakai kue tar yang di atasnya dinyalakan lilin berbentuk angka sesuai usia yang merayakan? Yang pada akhirnya, nyala lilin itu harus ditiup sampai mati lalu semua bertepuk tangan. Sampai sekarang saya berpikir meniup lilin di acara ulang tahun itu simbol kematian dengan tepuk tangan sebagai perayaannya. Apakah itu merayakan kematian? Oh, tentu tidak. Bahwa ada pendapat semakin hari usia manusia berkurang alih-alih bertambah itu soal keyakinan. Tapi, ulang tahun tetap menjadi perayaan yang membahagiakan dan orang-orang yang datang turut mendoakan supaya yang ulang tahun diberkati, panjang umur dan bahagia. 

Tetapi, apakah itu sebenar-benarnya identitas kita dalam merayakan ulang tahun?
                                                                     ***
Pemerintah Situbondo sepantasnya bersyukur punya rakyat dengan energi kreatif yang tidak pernah surut. Ketika para birokrat kota kebingunan menyusun program kunjungan wisata dan masih kelimpungan mencari identitas dirinya, sejumlah pemuda-pemudi Situbondo sudah bergerak lebih tangkas. Mereka berkumpul dan bersinergi di ruang publik: warung kopi, trotoar kota dan alun-alun. Merencanakan setiap ide di kepala menjadi tindakan nyata yang sederhana namun menyenangkan.

Sebagaimana lahirnya Takanta.id, website kaum muda Situbondoan. Website ini dikelola secara mandiri oleh beberapa pemuda. Mereka merupakan teman-teman yang lahir dari rahim literasi seperti: Komunitas Penulis Muda Situbondo (KPMS) dan Gerakan Situbondo  Membaca (GSM). Awak redaksinya  hanya 3 orang. Tetapi, website ini sudah berani menyediakan banyak rubrik. Ada 10 rubrik: apacapa, ngaleleng, apresiasi, kakanan, feminis, komik, cerpen, puisi, cerbung, dan ulas.

Secara kebaruan atau updating tulisan, website tersebut masih lebih aktif daripada website resmi pemerintah kota. Menurut Imron, pemred takanta.id, setiap harinya ia bisa menerima 2 sampai 3 naskah yang dikirimkan penulis secara suka rela. Artinya, semangat untuk menghidupi website tersebut telah menyala. Ada kesamaan harapan tentang tersedianya ruang publik maya yang memfasilitasi laku kreatif kaum muda Situbondoan tanpa batas dan syarat. Sebuah angin segar yang layak dinikmati dan dirayakan bersama.

Sabtu, 6 Juli 2019 Takanta.id berulang tahun yang ke-2. Sebagai rasa syukur atau katakanlah rasa bahagia, awak redaksi menyiapkan acara ulang tahun. Konsepnya sederhana: berbagi rasa dan kenangan. Ya, diskusi atau berbagi proses kreatif dari beberapa penulis situbondoan yang baru-baru ini menerbitkan buku terbarunya. Ada juga dialog dengan beberapa pegiat blogger, desainer grafis dan content creator. Serta diskusi publik tentang perkembangan literasi di Situbondo.

Di ulang tahunnya yang ke-2 ini, saya berharap Takanta.id tetap menjadi dirinya. Ia tidak harus menjadi mojok.co atau tirto.id cabang Situbondo. Sekali lagi, tetaplah menjadi diri sendiri, yang berpihak pada kaum tertindas, yakni: mereka yang putus cinta dan patah hati. Takanta.id harus jadi penyeka air mata mereka yang dihantam pahitnya kehilangan dan perpisahan.

Selamat ulang tahun, Takanta.id. Panjang umur, kenangan.


*) dimuat pertama kali di takanta.id, 5 Juli 2019. 

Jumat, 14 Juni 2019

Lebaran dan Dua Kepergian*



Suara kembang api meletup di udara. Ia memecah sunyi pasca magrib. Seketika suasana menjadi ramai. Anak-anak kecil, remaja, dan orang tua melantangkan takbir di surau-surau dan masjid. Sementara di jalan, takbir digaungkan di atas truk dan pickup yang melaju beriringan. Bergantian. Bersalip-salipan. Lebaran telah tiba.  

Allahuakbar. Atas kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa saya tiba di lebaran tahun ini. Setelah melewati ramadhan ke-26 saya selama hidup. Dengan keadaan sadar dan sehat. Takdir ini, sepantasnya saya syukuri. Karena tidak sedikit orang selain saya melewati ramadhan dengan suasana yang tidak cukup baik: sakit di rumah sakit, berada di tanah rantau, kecelakaan di jalan, sampai kehilangan. Kematian. Sebagaimana orang tua di Palestina yang kehilangan anaknya karena memilih jalan martir untuk bangsanya. Atau yang terdekat, kepergian Ibu Ani Yudhoyono lima hari sebelum lebaran. Alfatihah.   

Perihal kepergian, kita semua sama. Mengalaminya tanpa persiapan yang cukup, karena sering kali tiba dengan tiba-tiba. Dua lebaran terakhir, saya harus kehilangan dua orang yang sangat, dan selalu saya sayangi. Pertama, Kakek kandung saya. Jeritan nenek memecah jam tidur saya dan orang tua saya di sepertiga pagi. Satu setengah jam sebelum subuh. Di hari jumat. 

Seketika saya, ibu, bapak, dan adik terperajat dari tempat tidur lalu tergopo-gopo ke rumah nenek yang hanya dibatasi gedung yang sama dengan pintu samping terhubung langsung ke rumah nenek.  Di atas tempat tidur, kakek terbujur kaku. Matanya terpejam, tangannya bersedekap, tubuhnya hangat. Di samping tempat tidur kakek, nenek bersimpuh. Sambil mengelus-ngelus rambut kakek, nenek merapal maaf dengan lirih untuk kakek.

“Eppa’na, tade’ la, Yam. Eppa’na tade’ laaa...”
Bapakmu meninggal, Yam (panggilan ibu saya), Bapakmu meninggal...”,ujar nenek yang pipinya berlinang air mata. Ibu memeluknya. Saya dan bapak membacakannya surat yasin dan doa agar kakek berangkat dengan tenang.

Saya dan keluarga tidak punya firasat apa-apa tentang kepergian kakek. Karena malam jumat itu, semuanya masih baik-baik saja. Kakek masih sangat bugar. Selesai makan malam yang sangat sederhana, bapak, ibu, nenek ngobrol di ruang tamu. Sementara  Saya, adik, dan kakek nonton bola bareng di SCTV. Saat itu Timnas Indonesia U-23 main melawan Timnas Suriah U-23. 

Pertandingannya seru. Saling berbalas gol. Tapi skor akhirnya 2-3. Indonesia kalah. Pertandingan selesai, nonton tv-nya selesai. Kakek pergi ke kamarnya lalu tidur dan tidak pernah bangun lagi. Kami melewati ramadhan 1439 Hijriyah dengan perasaan sesak-sedih karena kepergian kakek.    

Kedua, tiga bulan sebelum lebaran tahun ini, saya harus menerima kepergian lagi. Kepergian yang sangat menyesakkan. Dada saya seolah dihantam ombak besar yang seketika itu saya melihat diri saya sendiri terhempas jauh dari perempuan itu. Perempuan yang di beranda rumahnya saya memasang cincin di jari manisnya, lalu diajak penghulu mengucap janji bersetia padanya sehidup dan jelang ajal itu, memilih mengakhiri perjalanan.  Perjalanan yang hanya memakan waktu enam bulan. Singkat. Sangat singkat. 

Jika itu usia mengandung, maka belum lah siap dilahirkan. Meskipun Anda tidak sabar dan terburu-buru melihat buah hati itu lahir. Ya, seperti angan-angan melihat buah hati lekas lahir itulah segalanya berakhir. Tergesa-gesa. Akhirnya, saya harus mengubur dalam-dalam keinginan mengabiskan ramadhan dan lebaran pertama bersamanya.

Saya sangat terpukul. Meratapi kenyataan bahwa saya dan dia harus berpisah. Saya pulang ke rumah orang tua saya. Di kamar saya mengurung diri beberapa jam. Saya mengingat lagi apa saja yang sudah dilewati berdua dalam durasi pernikahan yang singkat itu. Air mata saya jatuh. Tapi saya cepat sadar, tidak ada alasan lagi untuk saya mengeluarkan air mata itu berlaut-larut. Bahwa kesedihan ini memang harus segera diakhiri. Meskipun sangat berat dan panjang. 

Maklum, perkenalan saya dan dia dimulai dari bangku sekolah menengah pertama. Saat guru bahasa Indonesia tiba-tiba menjadi pak comblang yang ulung. Karena berhasil memasangkan beberapa teman satu sekolah hingga jenjang pernikahan, termasuk saya dan dia.  Karena itu, saya bisa menghitung kisah-kenangan yang harus dipensiunkan itu perlu waktu yang tidak sebentar. Dan saya harus siap.

***
Kepergian seringkali datang tanpa janjian. Orang yang kita sayangi: bapak, ibu, adik, kakak, saudara dan kawan ngopi tiba-tiba pergi dan tiada. Padahal masih terlihat sehat dan bugar. Atau suami, istri memilih berpisah padahal masih saling  mencintai. Kita bisa bersedih, berduka, menyayangkan dan mengutuki kepergian itu. Tapi itu bukan jalan terbaik. Karena hanya berakhir penyesalan juga.

Beruntung manusia punya doa, yang padanya setiap harapan diselipkan dan disampaikan dalam senyap. Ketika semua ikhtiar sudah dikerahkan untuk menahan kepergian, maka mendoakannya adalah jalan terakhir yang paling masuk akal.      
Sebagaimana penggalan puisi yang ditulis Chairil Anwar:
Doa
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Cahaya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
...........


*) terbit pertama kali di takanta.id pada Jumat, 7 Juni 2019.

Kamis, 13 Juni 2019

Kayumas Bersastra: Menjadi Tua yang Menyenangkan*


(Martin Aleida berdiskusi bersama peserta Kayumas Bersastra)

Martin Aleida duduk di baris paling belakang peserta diskusi. Kaki kirinya ditekuk sejajar dada. Kaki kanannya selonjoran. Tangannya diletakkan di belakang punggungnya. Menopang badannya. Sambil mencari tumpuan duduk yang nyaman, sorot matanya memandang ke arah mimbar kecil yang terbuat dari teras keramik putih setinggi 20 sentimenter. Di mimbar itu, Wayan Jengki Sunarta bersiap memulai diskusi sesi terakhir acara Kayumas Bersastra.

Di sela penyampaian materi diskusi atau lebih tepatnya ngobrol santai bersama Mas Jengki, saya berniat tidak melewatkan dua hal: apa yang dibicarakan Mas Jengki dan apa yang dilakukan Pak Martin. Khusus yang terakhir, saya menyimpan penasaran yang lebih. Saya mengira Pak Martin akan bertahan ikut diskusi selama 15 sampai 20 menit, atau paling lama setengah jam.  Setelah itu rebahan lalu istirahat. Tidur. Maklum, ketika Mas Jengki mulai bicara, waktu sudah menunjukkan pukul 23.35. Waktu yang cukup larut untuk seorang seusia Pak Martin. Sementara itu, beberapa peserta terlihat mulai rebahan dan ada juga yang sudah tidur. Termasuk Mas Sigit Susanto.

“Santai, ya. Kita tanya jawab saja. Teman-teman tanya, saya berusaha menjawabnya”, kata Mas Jengki sambil tersenyum memegang mic.

Mas Jengki mulai menjawab pertanyaan satu-persatu. Beberapa pertanyaan memang mengarah pada proses kreatif Mas Jengki dan kabar perkembangan geliat sastra di Bali. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, Mas Jengki lebih banyak bercerita tentang Umbu Landu Paranggi, seorang penyair yang dijuluki “Presiden Malioboro”. karena menjadi mentor/inspirasi bagi penyair dan seniman di Yogya kala itu. Tentu saja melalui Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas sastra di mana Umbu menjadi salah satu pengasuhnya.

Di mata Mas Jengki, Umbu merupakan guru menulis yang bertangan dingin, nyeleneh, dan susah ditebak. Mas Jengki menyimpan kenangan yang menarik tentang Umbu. Ingatan Mas Jengki kembali pada suatu hari di Sanggar Minum Kopi (SMK), sebuah sanggar tempat kongko atau diskusi penyair Denpasar. Saat itu malam minggu, Mas Jengki sedang diskusi puisi dengan beberapa temannya. Tiba-tiba Umbu datang dengan membawa kresek.

“Jengki, ini nasi untuk kamu. Nasi Republika”, kenang Mas Jengki meniru perkataan Umbu.

Mendengar perkataan Umbu, seketika teman-teman Mas Jengki ikut tertawa bersama Umbu. Mas Jengki bingung kenapa Umbu tiba-tiba memberinya nasi yang ia sebut nasi republika itu. Sebelum akhirnya Mas Jengki tahu puisinya dimuat di koran nasional “Republika” untuk kali pertama. Belakangan Mas Jengki tahu nasi itu merupakan jatah makan Umbu dari tempat kerjanya.

Momen itu, membuat Mas Jengki senang. Ia mendapatkan dorongan semangat dalam bentuk yang lain: suatu wejangan sederhana dari seorang yang namanya ia letakkan di tempat spesial. Di tempat terhormat. Sebungkus nasi dari Umbu yang menjadi metafor; bekal untuk Mas Jengki agar terus menempuh jalan kreatif yang panjang. Yang padanya hidup Mas Jengki wakafkan untuk permenungan yang sepi, tapi juga asyik. Berkarya sepanjang usia.      

Di samping momen personal itu, Mas Jengki juga bercerita tentang sikap Umbu yang hangat kepada siapapun. Menurut Mas Jengki, Umbu tak pernah memosisikan dirinya sebagai guru. Umbu sering kali datang berkumpul bersama teman-teman penyair muda dengan sangat sederhana. Tidak menggurui. Biasa saja. Tapi, sangat telaten.
 
“Kadang, ia datang hanya untuk main gaplek. Ngobrol ngalor-ngidul yang gak penting. Tapi di sela itu, ia merhatikan betul apa yang ditulis teman-teman. Ia bawa buku. Ia suruh baca tu buku puisi atau apa gitu yang menurut Umbu sebagai nambah perbendaharaan kata bagi tulisan teman-teman. Supaya tulisannya berbobot”, kenang Mas Jengki.

Mas Jengki juga mengenang kebiasaan Umbu yang tak biasa. Masih mencakup hal yang sederhana dan tak begitu penting.

“Kita kalo nonton bola gimana? Yang penting-penting saja, kan. Nah, Umbu beda. Ia tonton tu semua pertandingan bola satu per satu dari awal sampai akhir turnamen. Baik pertandingan tim-tim besar sampai tim semenjana. Pokoknya aneh Umbu itu”, kata Mas Jengki sambil tertawa.

Floribertus Rahardi yang lebih banyak diam di sesi terakhir, menyampaikan kenanganya tentang Umbu. Pak Rahardi tahu betul peran Umbu dalam mengorbitkan penyair dan seniman muda berbakat kala itu. Seperti Cak Nun, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Adi Nugraha. Meski hal itu tidak pernah diakui Umbu. Wajar saja karena Umbu memang tidak pernah meninggikan perannya. Dan itu memang sikap hidup Umbu.

Menurut Pak Rahardi, lahirnya PSK pada tahun 1968 itu menjadi bagian dari momentum geliat perpuisian indonesia modern. Saat itu, PSK punya Mingguan Pelopor sebagai rubrik puisi. Selain tentu saja rubrik puisi di majalah Horison yang ketika itu diasuh oleh Sapardi Djoko Damono.

“Nah, rubrik-rubrik puisi itu lah yang memantik kaum muda yang punya minat menulis puisi menemui wadahnya, sehingga banyak sekali penyair muda bermunculan kala itu. Dan itu tentu salah satu peran Umbu masuk di situ. Sehingga kemudian oleh para penyair saat itu Umbu dijuluki Presiden Malioboro”, ungkap Pak Rahardi.

Pada tahun 1975, Umbu tiba-tiba pergi dari Yogya. Tidak ada yang tahu Umbu pergi ke mana. Di kalangan seniman ada yang menyebut ia pulang ke Sumba Barat, tanah leluhur Umbu. Belakangan ia diketehui menetap di Bali. Menurut Mas Jengki, Umbu jadi pemantik geliat perpuisian di Bali. Caranya tetap unik dan menarik. Umbu mendatangi tiap kabupaten di Bali untuk menggairahkan minat orang-orang terhadap apresiasi sastra, lalu dengan telaten berdiskusi secara personal dengan anak-anak muda yang berbakat dalam kepenulisan.

“Umbu ini padahal cucu dari seorang raja di Sumba. Hidupnya tentu saja sudah enak. Tapi ia tinggalkan itu semua untuk berkelana dan bergeliat di perpuisian ini”, tutur Mas Jengki.

“Ya, Umbu ini kalau dalam ajaran Hindu Budha bisa dikatakan moksa. Lepas dari hal-hal materi. Ia dekatkan dirinya dengan kesenian dan puisi sebagai alat penghalusan budi ”, ujar Pak Rahardi.

“Tidak ada yang perlu dicongkakkan. Meskipun sudah menulis banyak karya atau buku. Tetap rendah hati. Lihat saja itu Pak Martin. Ia tetap bisa berbaur dengan kalangan muda. Ngobrol apa adanya, berbagi. Bahkan tidur ya seperti itu sudah”,  tambah Pak Rahardi sambil menunjuk ke posisi Pak Martin tidur. Suara Pak Rahardi terdengar serak.

Saya menoleh ke belakang, Pak Martin sudah tidur. Ia memakai topi koplo’. Tidur berbantal baju dan handuk yang digulung. Tangannya ditekuk berdempetan di atas dadanya. Tubuhnya rebahan di atas karpet warna merah yang disediakan panitia.

Saat itu, jam menunjukkan pukul dua pagi. Sebetulnya Pak Martin baru saja tidur. Mungkin sudah setengah jam. Karena saya tahu Pak Martin mengikuti betul diskusi yang disampaikan Mas Jengki hingga pagi. Sepanjang diskusi, ia beberapa kali mengubah posisi duduknya: selonjoran, menekuk satu kaki, bergeser, sampai tiduran miring dengan tangan menyangga kepalanya, hingga kemudian memilih tidur.

Perkiraan saya meleset. Pak Martin bertahan ikut diskusi sekitar dua jam lebih. Satu setengah jam lebih lama dari yang saya perkirakan. Padahal usianya sudah 75 tahun. Usia yang tak lagi berada pada fase menyala untuk sebuah diskusi yang sudah larut pagi. Tapi, Pak Martin seolah meruntuhkan kalkulasi usia dan waktu itu. Saya kagum kesehatannya sangat terjaga. Saya juga penasaran bagaimana ia menjaganya.

(Martin Aleida tidur di baris paling belakang peserta diskusi)

****        
Empat penulis nasional yang hadir di acara Kayumas Bersastra meninggalkan kesan menarik. Bagi saya, Gerakan Situbondo Membaca (GSM) secara khusus memberi panggung kepada orang tua yang menyenangkan. Tentu bukan sebagai orang tua biologis yang pada setiap perkataannya wajib dipatuhi dan dijalankan, melainkan orang tua ideologis dalam konteks sastra, buku dan kepenulisan, yang setiap perkataannya adalah sebuah panggung terbuka. Siapapun boleh mementaskan apa saja. Kapan saja.

Karya mereka adalah lantai panggung, yang menjadi pijakan teman-teman muda untuk mementaskan karya baru. Andaipun memilih berpijak di lantai yang lain, boleh saja. Karena mereka tidak menulis kitab suci yang ajeg dan harus, wajib begini begitu. Melainkan narasi kehidupan yang dikumpulkan dalam satu jilid yang sama: karya manusia. Tetapi, baik kitab suci maupun karya manusia, setidaknya dari apa yang disampaikan empat penulis tersebut adalah alat untuk menghaluskan budi.

Pak Martin, Pak Rahardi, Mas Sigit Susanto, dan Mas Jengki menyiapkan masa tua tidak dengan memikirkan panti jompo atau menghimpun masa dengan sebutan people power, melainkan dengan berkarya dan memantik semangat generasi muda yang mencintai sastra dengan cara silaturahmi dan berdiskusi. Diskusi yang sederhana dan menyenangkan. Lantas, masa tua seperti apa yang sudah dan akan kita siapkan, kawan? Mari berhenti bertanya pada rumput yang bergoyang.

Salam.       

*) dimuat pertama kali di takanta.id. Rabu, 4 Juni 2019.