Jumat, 14 Juni 2019

Lebaran dan Dua Kepergian*



Suara kembang api meletup di udara. Ia memecah sunyi pasca magrib. Seketika suasana menjadi ramai. Anak-anak kecil, remaja, dan orang tua melantangkan takbir di surau-surau dan masjid. Sementara di jalan, takbir digaungkan di atas truk dan pickup yang melaju beriringan. Bergantian. Bersalip-salipan. Lebaran telah tiba.  

Allahuakbar. Atas kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa saya tiba di lebaran tahun ini. Setelah melewati ramadhan ke-26 saya selama hidup. Dengan keadaan sadar dan sehat. Takdir ini, sepantasnya saya syukuri. Karena tidak sedikit orang selain saya melewati ramadhan dengan suasana yang tidak cukup baik: sakit di rumah sakit, berada di tanah rantau, kecelakaan di jalan, sampai kehilangan. Kematian. Sebagaimana orang tua di Palestina yang kehilangan anaknya karena memilih jalan martir untuk bangsanya. Atau yang terdekat, kepergian Ibu Ani Yudhoyono lima hari sebelum lebaran. Alfatihah.   

Perihal kepergian, kita semua sama. Mengalaminya tanpa persiapan yang cukup, karena sering kali tiba dengan tiba-tiba. Dua lebaran terakhir, saya harus kehilangan dua orang yang sangat, dan selalu saya sayangi. Pertama, Kakek kandung saya. Jeritan nenek memecah jam tidur saya dan orang tua saya di sepertiga pagi. Satu setengah jam sebelum subuh. Di hari jumat. 

Seketika saya, ibu, bapak, dan adik terperajat dari tempat tidur lalu tergopo-gopo ke rumah nenek yang hanya dibatasi gedung yang sama dengan pintu samping terhubung langsung ke rumah nenek.  Di atas tempat tidur, kakek terbujur kaku. Matanya terpejam, tangannya bersedekap, tubuhnya hangat. Di samping tempat tidur kakek, nenek bersimpuh. Sambil mengelus-ngelus rambut kakek, nenek merapal maaf dengan lirih untuk kakek.

“Eppa’na, tade’ la, Yam. Eppa’na tade’ laaa...”
Bapakmu meninggal, Yam (panggilan ibu saya), Bapakmu meninggal...”,ujar nenek yang pipinya berlinang air mata. Ibu memeluknya. Saya dan bapak membacakannya surat yasin dan doa agar kakek berangkat dengan tenang.

Saya dan keluarga tidak punya firasat apa-apa tentang kepergian kakek. Karena malam jumat itu, semuanya masih baik-baik saja. Kakek masih sangat bugar. Selesai makan malam yang sangat sederhana, bapak, ibu, nenek ngobrol di ruang tamu. Sementara  Saya, adik, dan kakek nonton bola bareng di SCTV. Saat itu Timnas Indonesia U-23 main melawan Timnas Suriah U-23. 

Pertandingannya seru. Saling berbalas gol. Tapi skor akhirnya 2-3. Indonesia kalah. Pertandingan selesai, nonton tv-nya selesai. Kakek pergi ke kamarnya lalu tidur dan tidak pernah bangun lagi. Kami melewati ramadhan 1439 Hijriyah dengan perasaan sesak-sedih karena kepergian kakek.    

Kedua, tiga bulan sebelum lebaran tahun ini, saya harus menerima kepergian lagi. Kepergian yang sangat menyesakkan. Dada saya seolah dihantam ombak besar yang seketika itu saya melihat diri saya sendiri terhempas jauh dari perempuan itu. Perempuan yang di beranda rumahnya saya memasang cincin di jari manisnya, lalu diajak penghulu mengucap janji bersetia padanya sehidup dan jelang ajal itu, memilih mengakhiri perjalanan.  Perjalanan yang hanya memakan waktu enam bulan. Singkat. Sangat singkat. 

Jika itu usia mengandung, maka belum lah siap dilahirkan. Meskipun Anda tidak sabar dan terburu-buru melihat buah hati itu lahir. Ya, seperti angan-angan melihat buah hati lekas lahir itulah segalanya berakhir. Tergesa-gesa. Akhirnya, saya harus mengubur dalam-dalam keinginan mengabiskan ramadhan dan lebaran pertama bersamanya.

Saya sangat terpukul. Meratapi kenyataan bahwa saya dan dia harus berpisah. Saya pulang ke rumah orang tua saya. Di kamar saya mengurung diri beberapa jam. Saya mengingat lagi apa saja yang sudah dilewati berdua dalam durasi pernikahan yang singkat itu. Air mata saya jatuh. Tapi saya cepat sadar, tidak ada alasan lagi untuk saya mengeluarkan air mata itu berlaut-larut. Bahwa kesedihan ini memang harus segera diakhiri. Meskipun sangat berat dan panjang. 

Maklum, perkenalan saya dan dia dimulai dari bangku sekolah menengah pertama. Saat guru bahasa Indonesia tiba-tiba menjadi pak comblang yang ulung. Karena berhasil memasangkan beberapa teman satu sekolah hingga jenjang pernikahan, termasuk saya dan dia.  Karena itu, saya bisa menghitung kisah-kenangan yang harus dipensiunkan itu perlu waktu yang tidak sebentar. Dan saya harus siap.

***
Kepergian seringkali datang tanpa janjian. Orang yang kita sayangi: bapak, ibu, adik, kakak, saudara dan kawan ngopi tiba-tiba pergi dan tiada. Padahal masih terlihat sehat dan bugar. Atau suami, istri memilih berpisah padahal masih saling  mencintai. Kita bisa bersedih, berduka, menyayangkan dan mengutuki kepergian itu. Tapi itu bukan jalan terbaik. Karena hanya berakhir penyesalan juga.

Beruntung manusia punya doa, yang padanya setiap harapan diselipkan dan disampaikan dalam senyap. Ketika semua ikhtiar sudah dikerahkan untuk menahan kepergian, maka mendoakannya adalah jalan terakhir yang paling masuk akal.      
Sebagaimana penggalan puisi yang ditulis Chairil Anwar:
Doa
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Cahaya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
...........


*) terbit pertama kali di takanta.id pada Jumat, 7 Juni 2019.

Kamis, 13 Juni 2019

Kayumas Bersastra: Menjadi Tua yang Menyenangkan*


(Martin Aleida berdiskusi bersama peserta Kayumas Bersastra)

Martin Aleida duduk di baris paling belakang peserta diskusi. Kaki kirinya ditekuk sejajar dada. Kaki kanannya selonjoran. Tangannya diletakkan di belakang punggungnya. Menopang badannya. Sambil mencari tumpuan duduk yang nyaman, sorot matanya memandang ke arah mimbar kecil yang terbuat dari teras keramik putih setinggi 20 sentimenter. Di mimbar itu, Wayan Jengki Sunarta bersiap memulai diskusi sesi terakhir acara Kayumas Bersastra.

Di sela penyampaian materi diskusi atau lebih tepatnya ngobrol santai bersama Mas Jengki, saya berniat tidak melewatkan dua hal: apa yang dibicarakan Mas Jengki dan apa yang dilakukan Pak Martin. Khusus yang terakhir, saya menyimpan penasaran yang lebih. Saya mengira Pak Martin akan bertahan ikut diskusi selama 15 sampai 20 menit, atau paling lama setengah jam.  Setelah itu rebahan lalu istirahat. Tidur. Maklum, ketika Mas Jengki mulai bicara, waktu sudah menunjukkan pukul 23.35. Waktu yang cukup larut untuk seorang seusia Pak Martin. Sementara itu, beberapa peserta terlihat mulai rebahan dan ada juga yang sudah tidur. Termasuk Mas Sigit Susanto.

“Santai, ya. Kita tanya jawab saja. Teman-teman tanya, saya berusaha menjawabnya”, kata Mas Jengki sambil tersenyum memegang mic.

Mas Jengki mulai menjawab pertanyaan satu-persatu. Beberapa pertanyaan memang mengarah pada proses kreatif Mas Jengki dan kabar perkembangan geliat sastra di Bali. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, Mas Jengki lebih banyak bercerita tentang Umbu Landu Paranggi, seorang penyair yang dijuluki “Presiden Malioboro”. karena menjadi mentor/inspirasi bagi penyair dan seniman di Yogya kala itu. Tentu saja melalui Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas sastra di mana Umbu menjadi salah satu pengasuhnya.

Di mata Mas Jengki, Umbu merupakan guru menulis yang bertangan dingin, nyeleneh, dan susah ditebak. Mas Jengki menyimpan kenangan yang menarik tentang Umbu. Ingatan Mas Jengki kembali pada suatu hari di Sanggar Minum Kopi (SMK), sebuah sanggar tempat kongko atau diskusi penyair Denpasar. Saat itu malam minggu, Mas Jengki sedang diskusi puisi dengan beberapa temannya. Tiba-tiba Umbu datang dengan membawa kresek.

“Jengki, ini nasi untuk kamu. Nasi Republika”, kenang Mas Jengki meniru perkataan Umbu.

Mendengar perkataan Umbu, seketika teman-teman Mas Jengki ikut tertawa bersama Umbu. Mas Jengki bingung kenapa Umbu tiba-tiba memberinya nasi yang ia sebut nasi republika itu. Sebelum akhirnya Mas Jengki tahu puisinya dimuat di koran nasional “Republika” untuk kali pertama. Belakangan Mas Jengki tahu nasi itu merupakan jatah makan Umbu dari tempat kerjanya.

Momen itu, membuat Mas Jengki senang. Ia mendapatkan dorongan semangat dalam bentuk yang lain: suatu wejangan sederhana dari seorang yang namanya ia letakkan di tempat spesial. Di tempat terhormat. Sebungkus nasi dari Umbu yang menjadi metafor; bekal untuk Mas Jengki agar terus menempuh jalan kreatif yang panjang. Yang padanya hidup Mas Jengki wakafkan untuk permenungan yang sepi, tapi juga asyik. Berkarya sepanjang usia.      

Di samping momen personal itu, Mas Jengki juga bercerita tentang sikap Umbu yang hangat kepada siapapun. Menurut Mas Jengki, Umbu tak pernah memosisikan dirinya sebagai guru. Umbu sering kali datang berkumpul bersama teman-teman penyair muda dengan sangat sederhana. Tidak menggurui. Biasa saja. Tapi, sangat telaten.
 
“Kadang, ia datang hanya untuk main gaplek. Ngobrol ngalor-ngidul yang gak penting. Tapi di sela itu, ia merhatikan betul apa yang ditulis teman-teman. Ia bawa buku. Ia suruh baca tu buku puisi atau apa gitu yang menurut Umbu sebagai nambah perbendaharaan kata bagi tulisan teman-teman. Supaya tulisannya berbobot”, kenang Mas Jengki.

Mas Jengki juga mengenang kebiasaan Umbu yang tak biasa. Masih mencakup hal yang sederhana dan tak begitu penting.

“Kita kalo nonton bola gimana? Yang penting-penting saja, kan. Nah, Umbu beda. Ia tonton tu semua pertandingan bola satu per satu dari awal sampai akhir turnamen. Baik pertandingan tim-tim besar sampai tim semenjana. Pokoknya aneh Umbu itu”, kata Mas Jengki sambil tertawa.

Floribertus Rahardi yang lebih banyak diam di sesi terakhir, menyampaikan kenanganya tentang Umbu. Pak Rahardi tahu betul peran Umbu dalam mengorbitkan penyair dan seniman muda berbakat kala itu. Seperti Cak Nun, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Adi Nugraha. Meski hal itu tidak pernah diakui Umbu. Wajar saja karena Umbu memang tidak pernah meninggikan perannya. Dan itu memang sikap hidup Umbu.

Menurut Pak Rahardi, lahirnya PSK pada tahun 1968 itu menjadi bagian dari momentum geliat perpuisian indonesia modern. Saat itu, PSK punya Mingguan Pelopor sebagai rubrik puisi. Selain tentu saja rubrik puisi di majalah Horison yang ketika itu diasuh oleh Sapardi Djoko Damono.

“Nah, rubrik-rubrik puisi itu lah yang memantik kaum muda yang punya minat menulis puisi menemui wadahnya, sehingga banyak sekali penyair muda bermunculan kala itu. Dan itu tentu salah satu peran Umbu masuk di situ. Sehingga kemudian oleh para penyair saat itu Umbu dijuluki Presiden Malioboro”, ungkap Pak Rahardi.

Pada tahun 1975, Umbu tiba-tiba pergi dari Yogya. Tidak ada yang tahu Umbu pergi ke mana. Di kalangan seniman ada yang menyebut ia pulang ke Sumba Barat, tanah leluhur Umbu. Belakangan ia diketehui menetap di Bali. Menurut Mas Jengki, Umbu jadi pemantik geliat perpuisian di Bali. Caranya tetap unik dan menarik. Umbu mendatangi tiap kabupaten di Bali untuk menggairahkan minat orang-orang terhadap apresiasi sastra, lalu dengan telaten berdiskusi secara personal dengan anak-anak muda yang berbakat dalam kepenulisan.

“Umbu ini padahal cucu dari seorang raja di Sumba. Hidupnya tentu saja sudah enak. Tapi ia tinggalkan itu semua untuk berkelana dan bergeliat di perpuisian ini”, tutur Mas Jengki.

“Ya, Umbu ini kalau dalam ajaran Hindu Budha bisa dikatakan moksa. Lepas dari hal-hal materi. Ia dekatkan dirinya dengan kesenian dan puisi sebagai alat penghalusan budi ”, ujar Pak Rahardi.

“Tidak ada yang perlu dicongkakkan. Meskipun sudah menulis banyak karya atau buku. Tetap rendah hati. Lihat saja itu Pak Martin. Ia tetap bisa berbaur dengan kalangan muda. Ngobrol apa adanya, berbagi. Bahkan tidur ya seperti itu sudah”,  tambah Pak Rahardi sambil menunjuk ke posisi Pak Martin tidur. Suara Pak Rahardi terdengar serak.

Saya menoleh ke belakang, Pak Martin sudah tidur. Ia memakai topi koplo’. Tidur berbantal baju dan handuk yang digulung. Tangannya ditekuk berdempetan di atas dadanya. Tubuhnya rebahan di atas karpet warna merah yang disediakan panitia.

Saat itu, jam menunjukkan pukul dua pagi. Sebetulnya Pak Martin baru saja tidur. Mungkin sudah setengah jam. Karena saya tahu Pak Martin mengikuti betul diskusi yang disampaikan Mas Jengki hingga pagi. Sepanjang diskusi, ia beberapa kali mengubah posisi duduknya: selonjoran, menekuk satu kaki, bergeser, sampai tiduran miring dengan tangan menyangga kepalanya, hingga kemudian memilih tidur.

Perkiraan saya meleset. Pak Martin bertahan ikut diskusi sekitar dua jam lebih. Satu setengah jam lebih lama dari yang saya perkirakan. Padahal usianya sudah 75 tahun. Usia yang tak lagi berada pada fase menyala untuk sebuah diskusi yang sudah larut pagi. Tapi, Pak Martin seolah meruntuhkan kalkulasi usia dan waktu itu. Saya kagum kesehatannya sangat terjaga. Saya juga penasaran bagaimana ia menjaganya.

(Martin Aleida tidur di baris paling belakang peserta diskusi)

****        
Empat penulis nasional yang hadir di acara Kayumas Bersastra meninggalkan kesan menarik. Bagi saya, Gerakan Situbondo Membaca (GSM) secara khusus memberi panggung kepada orang tua yang menyenangkan. Tentu bukan sebagai orang tua biologis yang pada setiap perkataannya wajib dipatuhi dan dijalankan, melainkan orang tua ideologis dalam konteks sastra, buku dan kepenulisan, yang setiap perkataannya adalah sebuah panggung terbuka. Siapapun boleh mementaskan apa saja. Kapan saja.

Karya mereka adalah lantai panggung, yang menjadi pijakan teman-teman muda untuk mementaskan karya baru. Andaipun memilih berpijak di lantai yang lain, boleh saja. Karena mereka tidak menulis kitab suci yang ajeg dan harus, wajib begini begitu. Melainkan narasi kehidupan yang dikumpulkan dalam satu jilid yang sama: karya manusia. Tetapi, baik kitab suci maupun karya manusia, setidaknya dari apa yang disampaikan empat penulis tersebut adalah alat untuk menghaluskan budi.

Pak Martin, Pak Rahardi, Mas Sigit Susanto, dan Mas Jengki menyiapkan masa tua tidak dengan memikirkan panti jompo atau menghimpun masa dengan sebutan people power, melainkan dengan berkarya dan memantik semangat generasi muda yang mencintai sastra dengan cara silaturahmi dan berdiskusi. Diskusi yang sederhana dan menyenangkan. Lantas, masa tua seperti apa yang sudah dan akan kita siapkan, kawan? Mari berhenti bertanya pada rumput yang bergoyang.

Salam.       

*) dimuat pertama kali di takanta.id. Rabu, 4 Juni 2019.