Senin, 09 Februari 2015
Kamis, 05 Februari 2015
Menambah Pengalaman*
Memang tak ada yang janggal ketika laki-laki
memasak. Namun, apabila memasak dijadikan sebagai pekerjaan laki-laki, hal itu
terlihat unik. Sebut saja menjadi seorang juru masak atau familiar dengan
sebutan Chef, yang notabene dibutuhkan keahlian khusus dalam
urusan masak-memasak.
Bagi
kita mahasiswa (khususnya laki-laki) memilih bekerja sebagai Chef tidaklah
masalah. Asal punya minat dan
benar-benar berniat menekuninya. Karena ada tujuan mulia dalam bekerja,
yaitu meringankan beban tanggungan orang
tua terhadap kita, dan juga menantang kita untuk bersikap profesional.
Namun sebagai mahasiswa, kuliah
adalah tetap yang utama. Tetapi menambah pengalaman dibidang nonakademik juga perlu. Bukankah
pengalaman adalah guru yang paling baik?
*) Tulisan tersebut dimuat di Koran KOMPAS pada rubrik Argumentasi, Selasa, 7 Mei 2013.
![]() |
Foto: diambil dari status Dieqy H Widhana tanggal 7 Mei 2013 di Grup Facebook; Fakultas Ideas.
Rabu, 04 Februari 2015
Laut, Masyarakat Pesisir dan Bahasa*
Gagasan poros maritim dunia yang dilontarkan presiden
Joko Widodo menjadi momentum untuk mengembalikan jati diri bangsa. Hal itu didasari
oleh kondisi geografis negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan
wilayah laut lebih luas dibanding daratan. Selain itu, luas laut Indonesia
merupakan yang terluas dari sekian negara di dunia. Oleh karena itu, sektor
laut dapat dioptimalkan sebagai basis perencanaan sumber daya pembangunan
nasional. Menurut Kusnadi (2013:69) orientasi pembangunan yang berkiblat ke
maritim merupakan manifestasi dari karakteristik negara kepulauan. Disamping
itu, sebagai negara kepulauan sudah seharusnya Indonesia keluar dari paradigma kontinental-agraris
ke arah paradigma maritim yang rasional dan berwawasan global untuk
kesejahteraan masyarakat (Darmawan, Kompas
18 Agustus 2014).
Namun, memposisikan laut sebagai sumber utama pembangunan tidak lantas
membuat komponen didalamnya lupa diri. Pengelolaan kekayaan laut dengan
memperhatikan keadaan lingkungan harus menjadi ideologi kolektif. Sedangkan
mengeksploitasi kekayaan laut hanya untuk melanggengkan dominasi kapitalisme
internasional adalah sifat yang harus dilawan. Pemerintah diharapkan mampu
membuat kebijakan untuk menutup ruang gerak kekuatan kapitalisme internasional
yang ingin menguasai secara monopolis potensi sumber daya laut dan pesisir
nasional (Kusnadi, 2013:18). Sebab, kekayaan maritim tidak hanya memiliki
potensi sebagai pendorong laju perekonomian, tetapi lebih dari itu terdapat
aset bangsa berupa kebudayaan yang harus tetap dijaga kemurnian dan kekhasannya.
Sejumlah kebudayaan yang terdapat dalam konteks maritim
yaitu, aktivitas penangkapan ikan, ritual petik laut, ritual mengkawinkan
kapten kapal (Jhârâghân) dengan
perahu, dan tradisi mengundurkan diri. Aktivitas kebudayaan tersebut merupakan
manifestasi kehidupan masyarakat nelayan. Menurut Kusnadi (2013:65) masyarakat
nelayan merupakan unit sosial utama dalam kehidupan masyarakat pesisir,
sehingga kebudayaan masyarakat nelayan merupakan pilar terpenting dari
kebudayaan masyarakat pesisir. Lebih lanjut Kusnadi (2013:67) mengatakan bahwa
kelestarian dan dinamika kebudayaan pesisir sangat ditentukan oleh keberlanjutan
aktivitas masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir dalam mengelola potensi
sumber daya kelautan secara optimal dan kontinu.
Salah satu kegiatan kebudayaan masyarakat pesisir yang
paling aktif yaitu aktivitas penangkapan ikan. Aktivitas tersebut merupakan profesi
dari mayoritas masyarakat yang tinggal dilingkungan pesisir dan beberapa
masyarakat diluar lingkungan pesisir. Setiap harinya, para nelayan pergi ke
laut untuk menangkap ikan menggunakan kapal atau perahu tradisional. Ada beberapa
jenis perahu yang digunakan nelayan, yaitu perahu jurung, perahu sleret, perahu jaring udang, perahu
jaring senar dan sampan pancingan (Kusnadi, 2000:88).
Dalam menjalakan aktivitas penangkapan ikan, nelayan
memiliki semangat kerja yang tinggi. Jhârâghân
dan Anak Buah Kapal (ABK/Pandhigâ)
saling melengkapi sesuai dengan posisi dan tugas kerja masing-masing. Jhârâghân sebagai pengatur proses
penangkapan ikan dituntut mampu berkomukasi dengan ABK/Pandhigâ secara baik. Sedangkan ABK/Pandhigâ harus peka terhadap perintah Jhârâghân. Meskipun demikian, aktivitas penangkapan ikan dalam
penerapannya tetaplah dilaksanakan secara kolektif. Baik Jhârâghân maupun ABK/Pandhigâ
akan terlibat dalam satu aktivitas yang sejajar. Hal itu merupakan wujud dari
terjalinnya rasa saling percaya dan semangat gotong-royong yang diawali dengan menciptakan
komunikasi yang baik.
Komunikasi yang terbentuk dalam aktivitas penangkapan
ikan merupakan manifestasi praktek kebahasaan dalam masyarakat pesisir atau
masyarakat nelayan. Komunikasi tersebut dijalin dengan rasa saling percaya.
Sikap patuh ABK/Pandhigâ terhadap
perintah Jhârâghân tidak lantas
membuat Jhârâghân bertindak atau
memerintah semena-semena. Jhârâghân justru
memposisikan sejajar dengan ABK/Pandhigâ.
Selain itu, setiap pengambilan keputusan juga dikomunikasikan secara
bersama-sama. Baik Jhârâghân maupun
ABK/Pandhigâ urun rembug dalam setiap
pengambilan keputusan aktivitas penangkapan ikan yang akan dilaksanakan. Praktek
kebahasaan tersebut memunculkan pola-pola komunikasi yang menarik untuk
diungkap menjadi objek kajian. Kajian tentang pola-pola komunikasi dapat
dipelajari dan diungkap melalui studi etnografi komunikasi.
Studi etnografi komunikasi merupakan studi lintas
disiplin ilmu atau studi interdisipliner yang mencakup tiga bidang studi lain,
yaitu bahasa (linguistik), komunikasi, dan kebudayaan (antropologi). Studi
Etnografi Komunikasi (etnography of
communication) merupakan pengembangan dari Enografi berbicara (etnography of speaking) yang
dikemukakan pertama kali oleh Dell Hymes pada tahun 1962 (Ibrahim, 1994:5).
Studi ini menitikberatkan pada kajian peranan bahasa dalam aktivitas komunikatif
suatu masyarakat.
Menurut Kusnadi (2013:1) etnografi komunikasi
merupakan disiplin yang mengeksplorasi secara kualitatif peristiwa sehari-hari
dengan tujuan atau target memperoleh pemahaman tentang pola-pola komunikasi
sosial yang efektif, norma-norma yang mendasari interaksi sosial, makna-makna
komunikasi, dan realitas sosial-budaya masyarakat yang terlihat dalam interaksi
sosial tersebut. Secara spesifik, inti dari dari studi etnografi komunikasi
adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari bagaimana cara-cara bahasa
digunakan secara kolektif dalam suatu komunitas tertentu. Sebab, Menurut Wijana (2011:23) pola bahasa itu tentu ada, misalnya bagaimana pola pembentukannya, penyimpangan
maknanya, penyimpangan dan permainan ejaannya.
Bahasa merupakan medium utama dalam aktivitas
komunikasi. Menurut Pateda (1987:11) dalam berinteraksi, manusia mutlak
memerlukan bahasa sebagai medianya. Secara umum, bahasa diartikan sebagai alat
komunikasi berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan
bersifat arbitrer. Meskipun pada mulanya, pengertian tersebut tidak mewakili
pemahaman orang secara keseluruhan dikarenakan ada bentuk komunikasi selain
bunyi bahasa, misalnya asap api, bunyi kentongan hingga lukisan yang sudah lama
menjadi alat penyampai simbol dalam komunikasi masyarakat masa lalu. Tetapi
pemahaman bahasa melalui peraga lukisan dan semacamnya jika diaplikasikan pada
era kekinian mengandung banyak kelemahan. Salah satunya yaitu tidak memungkinkan
digunakan dalam aktivitas komunikasi intens atau sehari-hari. Sedangkan bahasa
dalam arti umum banyak memberikan kemungkinan yang lebih luas dan kompleks
(Keraf, 1979:1-2). Di kantor, warung kopi, jalan, ataupun di tengah laut
merupakan beberapa contoh ruang publik tempat orang-orang mengaplikasikan
bahasa dalam arti menyampaikan simbol bunyi artikulasi dalam bentuk komunikasi.
Kedua
pengertian bahasa di atas jika dipahami lebih lanjut cenderung pada persoalan
verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang dilakukan dengan
cara lisan maupun tulisan, sedangkan komunikasi nonverbal merupakan komunikasi
yang dilakukan dengan gerak-gerik anggota badan, perubahan mimik, tepuk tangan,
dan sebagainya (Suwito, 1983:14). Komunikasi dalam arti umum di atas dapat
dikategorikan sebagai komunikasi verbal, sedangkan komunikasi melalui alat
peraga dan semacamnya merupakan komunikasi nonverbal.
Oleh karena itu,
memahami aspek kebahasaan menjadi penting bagi setiap personal. Pemahaman bahasa
yang baik akan berdampak pada efektivitas komunikasi. Sedangkan pemahaman
bahasa yang kurang akan berdampak pada ketidaksesuaian antara kehendak dan
pencapaian. Disamping itu, memahami konteks pembicaraan dalam aktivitas
komunikasi juga perlu. Suwito (1983:148) menjelaskan bahwa, dalam pembicaraan
seorang penutur selalu mempertimbangkan kepada siapa ia berbicara, di mana,
tentang masalah apa, kapan dan dalam suasana bagaimana. Bagi etnografer atau
peneliti, pemahaman terhadap penggunaan bahasa dalam suatu komunitas tertentu
menjadi langkah awal untuk memahami dinamika dan realitas sosial komunitas yang
akan diteliti.
Setiap komunitas masyarakat memiliki praktek kebahasaan
yang menarik untuk diungkap. Antara satu
komunitas dengan komunitas yang lain memiliki perbedaan nuansa dan tolak ukur
masing-masing dalam menentukan nilai kebahasaan. Seperti halnya praktek komunikasi dalam aktivitas
penangkapan ikan. Komunikasi yang baik selalu dijalin antar anggota perahu agar
tercipta rasa saling percaya. Sebab, aktivitas
nelayan membutuhkan kekompakan dan kerja keras antar anggota agar aktivitas
penangkapan ikan berjalan dengan lancer.
Penelitian ini didasari dari pengalaman peneliti
ketika ikut dalam aktivitas penangkapan ikan di daerah Mimbo, Situbondo. Fokus penelitian
ditekankan pada interaksi antar anggota perahu. Baik itu antara Jhârâghân dengan ABK/Pandhigâ, maupun antara ABK/Pandhigâ
dengan ABK/Pandhigâ. Rentan waktu
interaksi yang diteliti dimulai sejak pemberangkatan ke lokasi penangkapan
hingga balik lagi ke pisisir, atau tepatnya saat perahu sandar di dermaga
pelabuhan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan interaksionisme
simbolik. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami makna yang terbentuk
dalam interaksi antar anggota perahu secara mendalam. Secara spesifik, esensi
pendekatan tersebut adalah upaya memaknai setiap interaksi dan tingkah laku
masyarakat (Mulyana, 2003:59).
*) Tulisan ini dibuat untuk Latar Belakang dalam Proposal Skripsi.
*) Tulisan ini dibuat untuk Latar Belakang dalam Proposal Skripsi.
Langganan:
Postingan (Atom)
