Rabu, 30 April 2014

Cuci Mulut*

        Beberapa waktu lalu, saya dan sejumlah teman santri Ponpes Al-Jauhar diundang oleh Pak Gatot untuk ikut serta dalam acara hotmil Qur’an di kediamannya. Lokasi yang tak begitu berjarak antara kediaman beliau dengan pondok –tempat saya dan ratusan mahasiswa lainnya tinggal- tersebut sering kali menjadi satu kemesraan tersendiri. Bagaimana tidak, keduanya akhir-akhir ini rutin bekerjasama dalam hal keagamaan ataupun sekedar saling bersilaturrahmi. Hingga sering kali ada cerita menarik yang didapat pasca acara.

     Cuci mulut mungkin jadi salah satu yang menyisakan cerita. Malam itu, acara hataman baru saja rampung bersamaan saya dan para santri tuntas melahap nasi lalapan. Tiba-tiba dari sela-sela selambu ruang tamunya Pak Gatot berujar,“Mari, cuci mulut dulu. Sebelum adik-adik balik ke pondok”.

       “Cuci mulut? Mana sikat giginya? Mana pastanya?”,bisik salah satu teman pada saya. Saya diam dan menganggap perkataan teman saya itu tak menarik. Ternyata tak demikian, perkataan tersebut perlahan mulai menjalar di otak saya dan membangkitkan kesadaran saya. Saya melihat, betul tak ada sikat gigi dan pasta. Di hadapan saya dan teman santri hanya ada potongan-potongan semangka yang bertumpuk rapi di atas wadah antik. Jadi artinya?

   Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata cuci mempunyai arti membersihkan dengan memakai air atau barang cair & sabun. Juga dalam KBBI, kata cuci disandingkan dengan beberapa kata, yaitu cuci tangan, cuci muka, cuci darah, cuci film dan cuci mata. Sedangkan cuci mulut tidak ada.

       Menurut pengertian saya, cuci mulut berarti melakukan kegiatan membersihkan daerah mulut bagian dalam atau tepatnya pada gigi dengan menggunakan  sikat gigi dan pasta. Tentu Anda juga berpendapat demikian. Namun pada realitasnya, cuci mulut tak hanya dirujuk pada hal yang demikian saja.

       Mari kita perhatikan, beberapa orang yang hadir pada suatu acara sering kali melontarkan cuci mulut setelah makan besar selesai. Sekilas memang tak ada masalah. Namun secara seksama, ujaran tersebut menjadi sangat menggelikan ketika pada kenyataannyya tak ada perbuatan atau tindakan membersihkan mulut menggunakan air atau sabun. Justru menyantap beberapa makanan ringan seperti semangka, papaya, coklat dan es buah.

     Selama ini, pemahaman dalam masyarakat tentang cuci mulut masih dalam konteks makan makanan ringan setelah makan besar. Kemudian pertanyaannya apakah hanya sejumlah makanan itu saja yang dapat dikatakan cuci mulut? Dan peristiwa seperti itu saja yang dapat dikatakan cuci mulut?

      Belum ada pengertian tertulis di KBBI terkait cuci mulut. Namun, setidaknya gelisah ini saya endapkan ke permukaan. Lalu, mari kita obrolkan.[] 

*) Tulisan ini merupakan tugas Matakuliah Problematika Bahasa.