Rabu, 26 Februari 2014

Pemilu di Ponpes Mahasiswa

        Para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Jauhar biasanya kembali ke kamar masing-masing setelah pengajian selesai. Namun subuh itu, Selasa (11/2) para santri tetap berada di dalam masjid dan duduk berderet menghadap ke arahkiblat. Dihadapan mereka, tiga kandidat calon Ketua Umum (Ketum) telah siap memenuhi panggilan nurani yang berani.Ya, ponpes yang mayoritas santrinya adalah mahasiswa dari beberapa universitas di Jember itu bersiap memilih pemimpin baru.
     Para kandidat tersebut yaitu nomor urut 1. Rikiy Huda Maulana, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej), nomor urut 2. Imam Hanafi, Mahasiswa Prodi Fisika FKIP Unej, dan nomor urut 3. M. Zainuddin, Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember.Ketiganya dinyatakan lolos oleh pengasuh, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Dewan Pertimbangan Pengurus (DPP) ponpes setelah melalui beberapa tahap seleksi.Hingga akhirnya ketiganya diputuskan layak untuk dipilih.
   Acara dibuka oleh pengasuh ponpes, Hj. Liliek Istiqomah, SH., MH. Dalam sambutannya, beliaumenanyakan kesiapan para kandidat jika nantinya telah terpilih. “Kalian (ketiga kandidat) merupakan amanah dari santri-santri yang lain. Nanti, sepatutnya amanah itu kalian laksanakan dengan sebaik-baiknya, demi ponpes ini yang lebih baik”, ujar pengasuh yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum, Universitas Jember. Ketiga kandidat terlihat gugup dan tegang. Sedangkan santri yang lain terus memberikan dukungan dengan sesekali meneriakkan nama para kandidat. Di akhir sambutan, pengasuh meminta semua santri memberikan hak suaranya sesuai dengan hati nurani masing-masing.
       Sebelum pemungutan suara dimulai, Ketua KPU Ponpes Al-Jauhar, Indra Lesmana memaparkan alur pemungutan suara. Alur tersebut yaitu:Pertama, pemilih mengisi nama di lembar absensi. Kedua, pemilih diberi surat suara yang berisi gambar ketiga kandidat. Ketiga, pemilih menuju tempat pemungutan suara untuk mencentang gambar kandidat. Keempat, pemilih memasukkan surat suara ke kotak suara yang telah disediakan.Kelima, pemilih dipersilakan duduk kembali ketempat semula. “Kami berharap teman teman-teman tidak ada yang golput”, ujar Indra.
    Proses pemungutan suara dimulai. Para santri perlahan menuju tempat pemungutan suara sacara bergantian.Awalnya, susana pemungutan berlangsung cukup tenang. Namun, suasana berubah menjadi riuh ketika salah seorang santri meneriakkan salah satu nama kandidat dengan lantang. Hal itu sontak mendapat respon dari santri-santri lain untuk ikut meneriakkan nama kandidatyang mereka dukung. Tingkahlaku itu membuat para kandidat tersenyum.
     Selang beberapa menit kemudian, suasana kembali menjadi menegangkan ketika Ketua KPU mulai melakukan penghitungan suara. Dibantu anggota KPU, satu per satu lembar surat suara diambil dari kotak suara, lalu menyebutkan nama kandidat yang tercentang pada masing-masing surat suara. Perolehan suara masing-masing kandidat mulai terlihat di papan penghitungan.
     Kandidat nomor dua dan tiga saling kejar-mengejar perolehan suara. Sedangkan nomor satu sudah berada jauh melampaui keduanya. Hingga pada akhirnya perolehan suara berhenti diangka 53 suara untuk kandidat nomor satu, 30 suara untuk nomor dua, dan 26 suara untuk nomor tiga.Terdapat 109 suara sah dan 1 suara tidak sah dari total 110 pemilih. Proses penghitungan perolehan suara ketiga kandidat disaksikan langsung oleh semua santri.
     Hasil penghitungan tersebut memastikan Rikiy Huda Maulana, kandidat nomor satu terpilih menjadi Ketum Ponpes Al-Jauhar untuk periode 2014-2016. Sontak hal tersebut langsung disambut suka-cita oleh para pendukungnya. “Saya bersyukur, ini hasil yang sesuai harapan”, ungkap Sirojul Munir, Mahasiswa Prodi Fisika FKIP Unej yang juga selaku tim sukses kandidat nomor satu itu.
      Ucapan selamat mengalir dari para satri atas terpilihnya Rikiy –sapaan akrab Rikiy Huda Maulana- sebagai ketum baru. Disela-sela para santri yang bersalaman dengan Rikiy, terlihat dua kandidat tak terpilih juga memeberikan ucapan selamat sambil bersalaman. Keduanya tampak senang dan legowo atas hasil tersebut. “Saya berterimakasih kepada semuanya. Saya akan laksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya”, ujar Rikiy.

Pemimpin Bermoral 
       Ponpes merupakan tempat berdialektika yang tetap meletakkan moral dan etika di garis depan. Para santri dibiasakan menjaga keduanya dengan sebaik-baiknya, disamping kemampuan akademis yang diperoleh dari kampus. “Di pondok ini, Anda (santri) harus memegang teguh moral dan etika. Berintelektual itu harus, tetapi bermoral itu wajib”, tutur nyai Liliek –sapaan akrab pengasuh-.
      Beliau juga mengkritisi para politisi nasional yang dinilainya telah menanggalkan nilai-nilai dan moral. “Kita dipimpin oleh pemimpin yang pintar berpolitik. Namun, kenapa beberapa diantara pemimpin itu juga pintar berprilakumenyimpang? Padahal mereka berintelektual. Kita tentu menyayangkan itu”, tutur Nyai.
        Namun beliau optimis akan tetap ada pemimpin yang mampu menjaga intelektual dan moralnya dengan baik. Beliau sangat berharap lembaga-lembaga pendidikan nasional mampu mencetak generasi yang kritis dan teguh dengan kedua hal itu. Mengingat bangsa ini lebih sering dihadapkan pada prilaku pemimpin yang sangat memprihatinkan.
       Bagi para santri, pemilu ini merupakan bagian dari proses belajar berpolitik. Sedangkan ponpes, yang boleh dikatakan sebagai salah satu miniatur bernegara, ingin mengajarkan bagimana intelektual dan moral akan saling berdampingan. Sehingga keyakinan terhadap perubahan keadaan bangsa menjadi lebih baik akan tetap ada. “Keyakinan itu harus tetap dimunculkan jika Anda ingin melihat masa depan. Keadaan yang lebih baik. Amin”, tutup Agus Mahardiyanto, Ketum Demisioner.