Para santri di Pondok Pesantren (Ponpes)
Al-Jauhar biasanya kembali ke kamar masing-masing setelah pengajian selesai.
Namun subuh itu, Selasa (11/2) para santri tetap berada di dalam masjid dan
duduk berderet menghadap ke arahkiblat. Dihadapan mereka, tiga kandidat calon
Ketua Umum (Ketum) telah siap memenuhi panggilan nurani yang berani.Ya, ponpes
yang mayoritas santrinya adalah mahasiswa dari beberapa universitas di Jember
itu bersiap memilih pemimpin baru.
Para
kandidat tersebut yaitu nomor urut 1. Rikiy Huda Maulana, Mahasiswa Program
Studi (Prodi) Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Jember (Unej), nomor urut 2. Imam Hanafi, Mahasiswa Prodi Fisika FKIP Unej, dan
nomor urut 3. M. Zainuddin, Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas
Muhammadiyah (Unmuh) Jember.Ketiganya dinyatakan lolos oleh pengasuh, Komisi
Pemilihan Umum (KPU) dan Dewan Pertimbangan Pengurus (DPP) ponpes setelah
melalui beberapa tahap seleksi.Hingga akhirnya ketiganya diputuskan layak untuk
dipilih.
Acara
dibuka oleh pengasuh ponpes, Hj. Liliek Istiqomah, SH., MH. Dalam sambutannya,
beliaumenanyakan kesiapan para kandidat jika nantinya telah terpilih. “Kalian
(ketiga kandidat) merupakan amanah dari santri-santri yang lain. Nanti, sepatutnya
amanah itu kalian laksanakan dengan sebaik-baiknya, demi ponpes ini yang lebih
baik”, ujar pengasuh yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum, Universitas
Jember. Ketiga kandidat terlihat gugup dan tegang. Sedangkan santri yang lain
terus memberikan dukungan dengan sesekali meneriakkan nama para kandidat. Di
akhir sambutan, pengasuh meminta semua santri memberikan hak suaranya sesuai
dengan hati nurani masing-masing.
Sebelum
pemungutan suara dimulai, Ketua KPU Ponpes Al-Jauhar, Indra Lesmana memaparkan
alur pemungutan suara. Alur tersebut yaitu:Pertama, pemilih mengisi nama di
lembar absensi. Kedua, pemilih diberi surat suara yang berisi gambar ketiga
kandidat. Ketiga, pemilih menuju tempat pemungutan suara untuk mencentang
gambar kandidat. Keempat, pemilih memasukkan surat suara ke kotak suara yang
telah disediakan.Kelima, pemilih dipersilakan duduk kembali ketempat semula.
“Kami berharap teman teman-teman tidak ada yang golput”, ujar Indra.
Proses
pemungutan suara dimulai. Para santri perlahan menuju tempat pemungutan suara
sacara bergantian.Awalnya, susana pemungutan berlangsung cukup tenang. Namun,
suasana berubah menjadi riuh ketika salah seorang santri meneriakkan salah satu
nama kandidat dengan lantang. Hal itu sontak mendapat respon dari santri-santri
lain untuk ikut meneriakkan nama kandidatyang mereka dukung. Tingkahlaku itu
membuat para kandidat tersenyum.
Selang
beberapa menit kemudian, suasana kembali menjadi menegangkan ketika Ketua KPU mulai
melakukan penghitungan suara. Dibantu anggota KPU, satu per satu lembar surat
suara diambil dari kotak suara, lalu menyebutkan nama kandidat yang tercentang
pada masing-masing surat suara. Perolehan suara masing-masing kandidat mulai
terlihat di papan penghitungan.
Kandidat nomor dua dan
tiga saling kejar-mengejar perolehan suara. Sedangkan nomor satu sudah berada
jauh melampaui keduanya. Hingga pada akhirnya perolehan suara berhenti diangka
53 suara untuk kandidat nomor satu, 30 suara untuk nomor dua, dan 26 suara untuk
nomor tiga.Terdapat 109 suara sah dan 1 suara tidak sah dari total 110 pemilih.
Proses penghitungan perolehan suara ketiga kandidat disaksikan langsung oleh
semua santri.
Hasil
penghitungan tersebut memastikan Rikiy Huda Maulana, kandidat nomor satu
terpilih menjadi Ketum Ponpes Al-Jauhar untuk periode 2014-2016. Sontak hal tersebut
langsung disambut suka-cita oleh para pendukungnya. “Saya bersyukur, ini hasil
yang sesuai harapan”, ungkap Sirojul Munir, Mahasiswa Prodi Fisika FKIP Unej
yang juga selaku tim sukses kandidat nomor satu itu.
Ucapan
selamat mengalir dari para satri atas terpilihnya Rikiy –sapaan akrab Rikiy
Huda Maulana- sebagai ketum baru. Disela-sela para santri yang bersalaman
dengan Rikiy, terlihat dua kandidat tak terpilih juga memeberikan ucapan
selamat sambil bersalaman. Keduanya tampak senang dan legowo atas hasil tersebut. “Saya berterimakasih kepada semuanya.
Saya akan laksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya”, ujar Rikiy.
Pemimpin
Bermoral
Ponpes
merupakan tempat berdialektika yang tetap meletakkan moral dan etika di garis
depan. Para santri dibiasakan menjaga keduanya dengan sebaik-baiknya, disamping
kemampuan akademis yang diperoleh dari kampus. “Di pondok ini, Anda (santri)
harus memegang teguh moral dan etika. Berintelektual itu harus, tetapi bermoral
itu wajib”, tutur nyai Liliek –sapaan
akrab pengasuh-.
Beliau
juga mengkritisi para politisi nasional yang dinilainya telah menanggalkan
nilai-nilai dan moral. “Kita dipimpin oleh pemimpin yang pintar berpolitik.
Namun, kenapa beberapa diantara pemimpin itu juga pintar berprilakumenyimpang?
Padahal mereka berintelektual. Kita tentu menyayangkan itu”, tutur Nyai.
Namun
beliau optimis akan tetap ada pemimpin yang mampu menjaga intelektual dan moralnya
dengan baik. Beliau sangat berharap lembaga-lembaga pendidikan nasional mampu
mencetak generasi yang kritis dan teguh dengan kedua hal itu. Mengingat bangsa
ini lebih sering dihadapkan pada prilaku pemimpin yang sangat memprihatinkan.
Bagi
para santri, pemilu ini merupakan bagian dari proses belajar berpolitik.
Sedangkan ponpes, yang boleh dikatakan sebagai salah satu miniatur bernegara, ingin
mengajarkan bagimana intelektual dan moral akan saling berdampingan. Sehingga
keyakinan terhadap perubahan keadaan bangsa menjadi lebih baik akan tetap ada. “Keyakinan
itu harus tetap dimunculkan jika Anda ingin melihat masa depan. Keadaan yang
lebih baik. Amin”, tutup Agus Mahardiyanto, Ketum Demisioner.