Kamis, 25 April 2013

Aku dan Malam


Malam
Padamu ku temukan cara manusia memilih
Tentang hidup dan jalannya masing-masing
Ada diri yang tunduk menyapa Pencipta
Ada diri yang meronta berkeluh kesah
Ada diri yang asik memasrahkan muka-muka
Juga sepasang kelamin yang menyatu dalam kepasrahan

Malam
Padamu ku temukan maknamu   
Sunyimu adalah tempat suci yang setia menyimpan kemesraan
Gelapmu adalah penyampai suara-suara syahwat letih
Dinginmu adalah ayat-ayat yang memanggil jarak 

Malam
Padamu ku simpan tanya yang berlarut
Apakah  kau selalu meyertakan cinta pada tiap pergantian hidup?
Apakah kau masih setia berbagi rindu pada tiap keresahan?
Apakah kau tetap seperti ini?
Menemani tiap-tiap jiwa sunyi

Malam
Hidup telah menjalurkan kehadiran kita masing-masing
Maka Setialah 
Setialah malam... Setialah...  
Hanya kesetiaan caraku percaya ada ku dan ada mu



[malam itu begitu setia ketika kita enggan memejamkan mata]  

(Jember)

Kamis, 11 April 2013

Elegi Sahabat

I
Kita akan berhenti memanggil tawa
Dan kata-kata yang mengundang rindu lainnya

II
Kau memisahkan jabat
Melepaskan nadi

III
Terlambat menahanmu, kawan!
Aku tak sempat hadir ditengah renggutmu

IV
Doa-doa ku bersama hidup yang lain
Menujumu tanpa ada air mata

V
Tiap-tiap kepergian adalah kedatangan yang lain
Kawan! menghadaplah pada Kasih yang merindumu

VI
Namamu adalah keabadian
Hidup tenang bersama sisa kenangan

VII
Marilah memulai lembar hidup
Tanpa aku, tanpa kamu

VIII
Tutuplah...
Bukalah...

IX
Pada apa yang membuat duka


Selamat jalan Kawan, selamat jalan Freddy Cahya Ryan
Tanpa ada air mata, hanya doa.
(Situbondo)

Selasa, 09 April 2013

Sayang

Sayang
Bilamana kelak angin membawamu jauh dari mata dan pandanganku
Aku ingin kita memahat rindu pada tiap-tiap awan yang melintas diatas rupa bumi
Lalu mereka bersaksi tentang suara dan penyatuan hati diantara kita masing-masing
Dan membawanya pada satu tempat dimana kita akan dipertemukan lagi

Sayang
Bilamana kelak kita benar-benar dipertemukan
Aku tak mau lagi kepergian dan kehilangan menjadi sebuah repetisi
Karena kau tahu kan (?)
Sepi adalah tamu yang menyiksa bagi manusia sepertiku
Kau tak mau kan, sayang (?)
Kau tak mau kan (?)

Sayang
Namun apalah upaya jika hidup juga menyertakan takdir
Yang memaksa kita juga harus percaya
Cinta tak akan lebih dari garisnya

Sayang
Aku pasrahkan nasibku padamu, pada janji yang sempat terucap dan juga pada-Nya

 
(Jember-Banyuwangi)