Kamis, 24 Januari 2019

Silaturahmi


Sejak kemarin saya tak enak badan. Tubuh meriang, kepala terasa berat, otot nyilu, mata terasa panas dan perih. Sudah minum obat tapi mereka belum mau pergi dari tubuh. Mungkin masih kangen. Lama gak main-main ke tubuh saya. Tapi, saya harus tetap bersyukur. Bahwa sakit itu bagian tak terpisahkan dari orang hidup.
Ketika sakit, obat jadi pilihan utama meredam rasa sakit. Darinya banyak orang merasa terselamatkan, juga banyak yang tak tertolong. Tapi, ada hal-hal yang tak terpikirkan oleh nalar tentang bagaimana orang melawan sakit. Misal silaturahmi. Apa Anda percaya silaturahmi dapat meredakan rasa sakit?
Kedatangan Ahmad Zaidi ke Bakso Pensiun membuktikan itu. Sepulang dari ngikuti acara Haul Alumni di Ponpes Sukorejo, ia mampir bersama seorang teman. Kami duduk di ruang depan warung. Sambil ngopi, kami ngobrol macam-macam. Mulai dari cerpen, puisi, hingga abu bakar ba'asyir. Ia juga menanyakan kabar Literasi Sumberanyar, dan soal saya yang kesepian merawat komunitas itu.
Pelan-pelan, rasa nyilu dan sakit di tubuh saya mulai lenyap. Saya tak tahu mereka pergi ke mana. Mereka tak berpamitan. Atau jangan-jangan mereka tak berontak karena nyimak obrolan kami? Lagi-lagi saya tidak tahu.
Jika silaturahmi dan ngobrol bareng bisa jadi obat sakit, setidaknya manusia bisa lebih semangat lagi menjalani hidup. Menghabiskan usia dengan memperbanyak menemui orang-orang. Membangun relasi yang setara. Berjejaring dan saling menguatkan. Bukan sibuk menebar retorika dan pasang banner di perempatan jalan agar orang memilihnya.
Kira-kira begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar