Beberapa waktu lalu, saya dan
sejumlah teman santri Ponpes Al-Jauhar diundang oleh Pak Gatot untuk ikut serta
dalam acara hotmil Qur’an di kediamannya. Lokasi yang tak begitu berjarak
antara kediaman beliau dengan pondok –tempat saya dan ratusan mahasiswa lainnya
tinggal- tersebut sering kali menjadi satu kemesraan tersendiri. Bagaimana tidak,
keduanya akhir-akhir ini rutin bekerjasama dalam hal keagamaan ataupun sekedar saling
bersilaturrahmi. Hingga sering kali ada cerita menarik yang didapat pasca acara.
Cuci mulut mungkin jadi salah satu yang menyisakan cerita. Malam itu, acara hataman
baru saja rampung bersamaan saya dan para santri tuntas melahap nasi lalapan. Tiba-tiba
dari sela-sela selambu ruang tamunya Pak Gatot berujar,“Mari, cuci mulut dulu. Sebelum adik-adik balik
ke pondok”.
“Cuci mulut?
Mana sikat giginya? Mana pastanya?”,bisik salah satu teman pada saya. Saya diam
dan menganggap perkataan teman saya itu tak menarik. Ternyata tak demikian,
perkataan tersebut perlahan mulai menjalar di otak saya dan membangkitkan kesadaran
saya. Saya melihat, betul tak ada sikat gigi dan pasta. Di hadapan saya dan teman
santri hanya ada potongan-potongan semangka yang bertumpuk rapi di atas wadah antik.
Jadi artinya?
Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), kata cuci mempunyai
arti membersihkan dengan memakai air atau
barang cair & sabun. Juga dalam KBBI, kata cuci disandingkan dengan beberapa kata, yaitu cuci tangan, cuci muka, cuci darah, cuci film dan cuci mata. Sedangkan
cuci mulut tidak ada.
Menurut pengertian
saya, cuci mulut berarti melakukan kegiatan
membersihkan daerah mulut bagian dalam atau tepatnya pada gigi dengan menggunakan sikat gigi dan pasta. Tentu Anda juga berpendapat
demikian. Namun pada realitasnya, cuci mulut
tak hanya dirujuk pada hal yang demikian saja.
Mari kita perhatikan, beberapa orang yang
hadir pada suatu acara sering kali melontarkan cuci mulut setelah makan besar selesai. Sekilas memang tak ada masalah.
Namun secara seksama, ujaran tersebut menjadi sangat menggelikan ketika pada
kenyataannyya tak ada perbuatan atau tindakan membersihkan mulut menggunakan
air atau sabun. Justru menyantap beberapa makanan ringan seperti semangka,
papaya, coklat dan es buah.
Selama ini,
pemahaman dalam masyarakat tentang cuci
mulut masih dalam konteks makan makanan ringan setelah makan besar. Kemudian pertanyaannya apakah hanya
sejumlah makanan itu saja yang dapat dikatakan cuci mulut? Dan peristiwa seperti itu saja yang dapat dikatakan cuci mulut?
Belum ada pengertian tertulis di KBBI terkait cuci mulut. Namun, setidaknya gelisah ini saya endapkan ke permukaan. Lalu, mari kita obrolkan.[]
*) Tulisan ini merupakan tugas Matakuliah Problematika Bahasa.
*) Tulisan ini merupakan tugas Matakuliah Problematika Bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar