Senin, 13 Januari 2014

Aku Memilih Gembel*


(Lampu menyala)

(Ketika mendengar gugahan orang, terjaga dari tidur sambil bingung)

"Apa Aku masih hidup? Apa Aku masih hidup?"
"Ya, ternyata aku masih hidup. syukurlah!"
''Aku begini, bukan karena aku tidak pernah korupsi seperti wakil-wakil rakyat itu''
''Kalau aku menjadi wakil rakyat,, barangkali aku lebih korup dari mereka''
''Kalau aku menjadi pejabat,, barangkali aku lebih jahat dari mereka''
''Kalau aku menjadi orang yang berkuasa,, barangkali aku lebih kejam dari mereka''
''Aku,, sehat seperti sekarang,, karena aku tidak punya apa-apa
dan karena aku tidak mempunyai apa-apa,, aku tidak pernah takut apa-apa''.

''Karena aku tidak takut apa-apa,, aku tidak pernah sedih, aku selalu gembira, aku selalu enteng, aku selalu merasa senang''
''Hanya satu yang aku punyai, aku pernah masuk sekolah dan belajar pada dunia pendidikan bangsa      ini''
''Aku pernah berguru dengan orang-orang hebat,, itu kenang-kenangan yang luar biasa''
''Sehingga setiap hari, kalau aku melihat adik-adik pergi ke sekolah, aku selalu duduk disini dan  melihat ke arah mereka. Aku lihat bagaimana mereka bercanda, bagaimana mereka tertawa,  bagaimana mereka bergurau. Aku selalu terharu, aku ingat pada kawan-kawanku...''
''Ada yang menjadi penjahat sekarang, ada yang menjadi pejabat, ada juga yang menjadi guru dan ada yang sudah mati''

Lalu tiba-tiba, aku teringat dengan pertanyaan bapakku waktu silam.

“Anakku, sekarang kau sudah dewasa. Aku ingin kau mendengar sesuatu!”
“Apa itu pak?”
“Kau harus berjuang meraih cita-cita bapak yang gagal bapak raih semasa muda dulu”
“maksud bapak?” aku terkejut kenapa bapak tiba-tiba ngomong begitu, aku pandangi mata bapak
“setelah lulus kuliah nanti, kau harus jadi guru!”
“Tidak pak!!!”
“Jadi pejabat?

(Aku menggelengkan kepala)

“Jadi polisi?

(Aku tetap menggelengkan kepala)

“Lalu? Kau ini ingin jadi apa?” bapak heran

“Tidak pak!!!!, aku tidak ingin menjadi apa-apa, karena aku tak sudi mengabdi pada siapapun, aku tak sudi! aku ingin bebas”

“Apa kau bilang?”

“Aku ingin bebas”

“Bodoh sekali kau anakku! Capek-capek bapakmu membiayai kamu sekolah hingga kuliah kau tidak ingin jadi apa-apa? apakah kau tidak berpikir akan hidup layak, hidup tenang, hidup tentram, kaya dengan istri dan anak-anakmu?”

“Justru itu pak, bapak hanya berpikir bagaimana aku hidup tenang, layak dan kaya raya. Itu akan menjadi sangat individual pak. aku tahu bapak menginginkan aku naik pesawat pulang pergi, naik mobil mewah. tapi, Apakah bapak tak melihat orang-orang yang tiap hari (apa ini) menginjak tai pak. itu menyakitkan pak''

“Bapak tidak peduli dengan mereka yang menginjak tai, yang penting kau tidak jadi tai”

“Lalu? bapak mau menutup mata dengan keadaan mereka?”

“Kau ini keras kepala. dulu aku juga keras kepala sepertimu, tapi bapak punya tujuan yang jelas”

“Ini juga tujuan pak.”

Bapak terdiam sebentar, lalu memintaku duduk lagi dan melanjutkan perkataan.

“Baiklah, jika itu pilihanmu. bapak tidak akan memaksamu jadi apa-apa lagi. tapi kau perlu ingat nak, bapakmu ini sudah tua, tak lama lagi bapak akan mati. apa kau tak mau berarti buatku?”

''Empat tahun lalu, persis seperti hari ini, bapak meninggal dipangkuan tetangganya. Kata mereka, bapak menderita strok yang sangat hebat.  Celakanya lagi, anaknya sendiri tidak tahu hal itu. Anaknya tidak bisa berbuat apa-apa untuk Bapaknya. Anaknya baru datang ketika bapaknya sudah terkubur di liang lahat. anaknya itu..... Aku. Aku yang sekarang hanya gembel jalanan''
''Dan sekarang, aku ingin bertanya pada kalian. jika kalian jadi aku, apa kalian ikuti semua perkataan bapak kalian atau kalian akan berkata, ini jalanku sendiri?!''
    (Lampu Mati)


                                                                      ***SEKIAN***


*) Naskah monolog ini dibawakan saat pementasan teater pada matakuliah teater I. Naskah disadur sebagian dari naskah monolog berjudul “Merdeka” karya Putu Wijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar